Rabu, 12 Oktober 2011

Ramadhan Untuk Pensucian Diri


Dalam pandangan Al Quran, jati diri manusia yang paling asasi itu ialah ruhaninya. Ruhani sifatnya baik dan suci, karena tercipta dari asal baik dan suci. Allah meniupkan ruh-Nya pada jasad manusia, sehingga manusia memiliki kemampuan kontak langsung dengan Allah SWT. Ibarat decoder atau gelombang televisi, jika ruh manusia selalu diharapkan dan dihubungkan dengan Allah maka kepribadiannya memancarkan sifat-sifat yang positif dan terpuji, “You are what you think” kata psiokolog. 


Jika seorang muslim selalu dzikir dan melakukan perenungan tentang Allah dengan segala kebesaran dan kasihnya, maka ia akan selalu berpikir positif tentang keindahan ciptaa-Nya. Secara psikologi adalah seseorang tengah melakukan proses internalisasi sifat-sifat Allah ke dalam dirinya. Sedangkan Allah sangat menyukai hambanya selalu menyebuat Bismillah-i- al-rahman-i-rahim. Artinya, orang yang merasa dekat dan beriman kepada Allah hendaknya menumbuhkan dalam dirinya sifat kasih sayang terhadap sesama. 



Di dalam hubungan sosial sifat kasih sayang itu tercermin, terutama dalam hubungan kasih orang tua dan anaknya yang selalu ingin memberi dan melindungi meskipun sang anak sudah dewasa dan mandiri. Di dalam memberi itulah seseorang memperoleh kebahagiaan tersendiri karena merasa bermakna bagi orang lain. Bagaimanapun juga peristiwa memberi secara tulus ikhlas jauh lebih membahagiakan daripa di dalam posisi diberi dan dikasihani. 


Salah satu hikmah terpenting ibadah puasa ialah memberi ruang dan kesempatan, juga perhatian terhadap pertumbuhan ruhani yang memiliki sifat mulia dan kasih sayang pada sesama. Jika dalam keseharian seseorang lebih banyak dominan oleh sikap “mengambil" dan “ menerima” maka puasa menumbuhkan kasih. 


Bulan Ramadan adalah bulan pertobatan, bulan rehabilitasi dan bulan pengembangan kepribadian agar menjadi manusia unggul secara spiritual, pribadi yang selalu ingin memberi dan menolong orang lain, bukan sebaliknya yang selalu ingin mengambil harta yang bukan haknya. Dan itulah kualitas tertinggi manusia. Kata Taubat dalam bahasa Arab artinya ”kembali”, yaitu kembali pada jati diri yang sejati dan primordial yang bersifat hanif. Lewat ibadah puasa seseorang Muslim diseru dan dilatih untuk memelihara ketakwaan.



Di dalam Al Quran ditegaskan bahwa perintah Allah agar orang beriman menjalankan puasa sesungguhnya tidak secara eksklusif hanya diperkenalkan kepada Nabi Muhammad, melainkan juga kepada umat nabi-nabi terdahulu. Kata puasa sendiri yang dalam bahasa Al Quran disebut Shiyam, berarti menahan diri dari godaan hawa nafsu yang tak terkendali. Dengan demikian, sesungguhnya kebenaran serta penghargaan terhadap ajaran berpuasa bersifat universal. 



Semua tokoh agama bahkan kalangan ahli bijak bestari juga selalu menganjurkan agar manusia menjalankan puasa sebagai latihan spiritual demi menjaga keluhuran jiwanya. Bahkan belakangan ini kalangan medis seringkali menganjurkan pasiennya untuk berpuasa sebagai terapi pengobatan bagi jenis penyakit tertentu. Dengan demikian kebenaran perintah puasa tidak semata berdasarkan alasan teologis, melainkan juga pertimbangan medis dan psikologis. 



Jika secara teologis ibadah puasa dikaitkan dengan imbalan pahala yang bersifat metafisis, terutama imbalan yang akan diterima di akhirat kelak, maka sesungguhnya menurut Al Quran atau sunnah nabi terdapat isyarat kuat bahwa pahala berpuasa juga memiliki dimensi sosial psikologis yang bersifat empiris. Bahkan dampak puasa empiris sangat ditekankan, misalnya, seseorang dengan menjalankan puasa hendaknya akan memiliki kepribadian yang jujur, hati yang lapang, senang berkorban untuk menolong sesama dan bisa menjaga hati, menjaga mulut dan tangannya untuk tidak menyakiti orang lain serta mengambil sesuatu yang bukan haknya. 



Dalam ibadah puasa setidaknya ada tiga pesan yang sangat melekat. Pertama, kita diajak untuk menghayati Kemahahadiran Tuhan. Betapa kita merasakan kedekatan Tuhan, sehingga dimanapun dan kapanpun kita berada, sanggup menahan diri untuk tidak makan dan minum, meskipun lapar dan haus, meninggalkan semua larangan yang membatalkan puasa, ini semata-mata karena kita merasa selalu dekat dan terawasi oleh Tuhan. Andai kita tidak percaya kehadiran dan kedekatan Tuhan, maka betapa mudahnya kita menipu orang lain dengan cara berpura-pura puasa, tapi Tuhan tidak bisa dibohongi. 



Kedua, kesanggupan menunda kenikmatan jasmani yang bersifat sesaat, sesungguhnya kita tengah melakukan investasi kenikmatan yang lebih agung dan sejati di hari depan. Dalam bentuk yang amat sederhana adalah kenikmatan sewaktu berbuka puasa.



Ketiga, puasa mengajarkan untuk berpandangan hidup di masa depan (future oriented), menajamkan dan menumbuhkan kepekaan sosial, yaitu berbagi rasa dan empati dengan orang lain dengan berzakat fitrah pada penghujung Ramadan. Sasaran yang akan diraih adalah menghilangkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya dengan membangun komitmen moral dan keprihatianan sosial.



Mengingat pesan ibadah puasa yang begitu mulia, maka secara lahiriah sesungguhnya kita juga bisa menduga-duga adakah seseorang berhasil atau tidak dalam membentuk pribadinya? Dalam pada itu meskipun yang melaksanakan puasa Ramadan terbatas hanya pada orang Muslim, sudah semestinya yang mendapatkan dampak positif dari puasa adalah masyarakat dan bangsa secara keseluruhan, mengingat umat Islam adalah adalah mayoritas Nuasantara. 



Artinya, umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa hendaknya tidak melihatnya dari sisi ritual saja, tetapi tidak kalah pentingnya ialah menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk membangun tata kehidupan sosial yang lebih beradab, yang dijiwai oleh semangat humanisme-religius. 



Ibadah puasa yang selalu hadir tiap tahun bagaimanapun juga pasti membawa dampak positif bagi kehidupan sosial keagamaan. Tidak hanya kehidupan individu yang diubah dan mengalami transformasi, tetapi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ikut diubah oleh kehadiran bulan Ramadan. Berbagai sektor kehidupan sehari-hari, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial seharusnya terkena imbas positif oleh atmosfir suasana Ramadan yang penuh hikmah, kesejukan dan kedamaian.



Melalui ibadah puasa potensi kemanusiaan primordial yang serba fitri, mulia dan penuh kasih terungkap ke permukaan. Melalui puasa, komitmen keberagamanan terekspresikan dalam perasaan, pikiran, dan perilaku yang serba lapang dan damai. Dengan begitu, terlihat bahwa semakin religius seseorang maka semakin lapang dan sejuk pembawaanya. Seseorang semakin humanis dan sekaligus juga religius.



Semangat humanisme-religius itu demikian kuat vebritasnya dalam bulan Ramadan yang terpancarkan dari mereka yang melaksanakan ibadah puasa dengan khusyuk. Prestasi psikologis-spiritual dari pelatihan rohani ini pada ujungnya ditutup secara simbolik dengan mengeluarkan zakat. Yaitu suatu sikap empati dan simpati terhadap orang lain yang secara ekonomis hidupnya kurang begitu beruntung.

Dan yang paling penting adalah semangat id al-fitri, kembali kepada fitrah, yaitu kesediaan untuk saling membuka hati dan maaf-memaafkan sebagai suatu metode dan sekaligus ajaran universal dari semua agama bahwa pada hakekatnya yang bisa menyatukan semua manusia adalah ketulusan dalam persahabatan. Yaitu ketika masing-masing bersedia melepaskan topeng-topeng egonya. Label, pangkat dan kedudukan serta kekayaan yang sering membatasi persahatan antar anak manusia hendaknya dilepas, sehingga yang terjadi adalah perjumpaan antar-hati yang fitri, yang menyadari bahwa sesungguhnya kita semua adalah teman seperjalanan menuju keharibaan Allah SWT.
  
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.


Sumber, metrotvnews