Minggu, 16 Oktober 2011

Penanganan Terorisme Perlu Kesatuan Langkah


Depok I Aksi teroris dan gerakan radikalisme sudah menjadi ancaman bagi  masyarakat secara umum. Pengasuh Pesantren Al Hikam KH Hasyim Muzadi menilai bahwa aksi teroris dan radikal bisa ditanggulangi. Pasalnya, dalam penanganannya tidak hanya cukup salah satu institusi saja. Namun, imbuhnya, merupakan satu kesatuan yang melibatkan berbagai unsur. 

“Yang pertama adalah melalui penguatan moderasi Islam. Dengan kata lain, Islam moderat yang tetap mengadopsi kearifan lokal,” terangnya dalam acara training of trainers Ulama dan Pimpinan Pesantren se-Indonesia. Pesantren Al-Hikam II, Beji, Ahad (16/10).

Hasyim menuturkan, berdasarkan pengalamannya konsep Islam moderat yang sering disampaikannya dalam berbagai forum internasional mendapatkan sambutan yang cukup baik. Bahkan, imbuhnya, dirinya mencontohkan di Indonesia  penerapan hidup berdampingan dan toleransi antar sesama berjalan dengan baik. 

“Dunia luar saja mengakui kita hebat, cuma kita belum sepenuhnya menggali dan menerapkan  kemampuan itu.  Jawabannya ada di Islam moderat yang rahmatan lil  alamin. Sudah saatnya juga, warga NU memperkuat dengan  mengumpulkan khazanah pemikiran yang berserakan untuk didokumentasikan dengan baik sebagai bahan dakwah,”terangnya.


Mantan ketua PBNU ini mengungkapkan, perlu adanya perbaikan sistem di Indonesia. Pasalnya, pasca reformasi yang dinilainya kelewatan telah memberikan dampak dan pengaruh yang signifikan. Dia mencontohkan, dalam UU yang berlaku saat ini membuat pihak eksekutif mengalami keterbatasan dalam menjalankan fungsinya. 

“Ini yang saya sebut sebagai jebakan sistem. Jadi, pemimpinnya ragu menjalankan kebijakan karena dibatasi oleh sistem yang ada. Contoh lainnya, polisi baru bisa menangkap pelaku teroris kalau sudah melakukan pengeboman dan teror. Karena, mereka bisa terkena HAM kalau tidak ada bukti,” tuturnya.

Ia menambahkan, perlu kewaspadaan pada gerakan  transnasional yang menjadi ancaman bagi NKRI. Menurutnya, sejak awal  NU tetap konsisten sejak awal menjadikan pancasila sebagai ideologi negara. Pasalnya, substansi dari pancasila juga merupakan bagian dari kaidah ushuliyah. Dirinya menilai, bahwa mereka yang mengikuti paham transnasional tidak memaham sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Perjuangan merebut kemerdekaan, lanjutnya, merupakan hasil jerih payah dari semua pejuang warga Indonesia yang tanpa pandang bulu. 

“Jangan kira, mereka yang berjuang di Palestina itu bukan hanya orang Islam saja. Tapi, orang Kristen juga ikut berjuang mengusir Israel dari tanah Palestina,” tuturnya.

Selain itu, imbuhnya,  gerakan transnasional merupakan sebuah gerakan yang ada datangnya dari luar dan mencoba untuk diterapkan di Indonesia. Dikatakannya, mereka menumpahkan kebenciannya terhadap negara Amerika dan menyerangnya dari Indonesia. Coba lihat, lanjutnya, bom yang meledak di hotel, gereja, masjid dan lainnya yang menjadi korban adalah warga sipil yang tak berdosa.

Sekretaris PCNU Depok Ust. Raden Salamun sependapat bahwa dalam menanggulangi teroris tidak hanya dilakukan tindakan secara represif. Lebih dari itu, perlu adanya upaya penguatan pemahaman tentang ideologi. “Pelaku teroris bisa saja di tangkap dan mati. Tapi, ajaran dan ideologi akan tetap selalu ada,” paparnya.

Salamun menilai, masyarakat secara umum harus dibentengi dengan ideologi yang bisa menangkal dari ajakan untuk bergabung dengan gerakan radikal. Dia menilai, mereka yang masuk dalam aksi teror dan radikal berasal dari kalangan muda yang masih minim pengetahuan agama dan sejarah berdirinya negara. 

“Melalui acara ini, kita akan menyampaikannya kembali pada masyarakat secara langsung. Tujuannya, sebagai langkah prefentif atas gerakan radikal dan lainnya,”paparnya.

Acara Training  of Trainers Ulama dan Pimpinan Pesantren se-Indonesia tersebut, diikuti oleh 40 perwakilan dari ulama dan pesantren seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pesantren Al-Hikam dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Sumber, NU Online.