Selasa, 25 Desember 2012

Kebutaan Budaya



 Sumber: NU Online


Agaknya tidak mudah untuk mendefinisikan budaya Islam secara menyeluruh. Namun, kita bisa saksikan kekuatan pengaruhnya hampir di belahan dunia manapun. Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaurrasyidin, hingga renaisans di Cordoba, Spanyol, telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam.

Sejarah Islam sebagai kekuatan budaya telah memunculkan apa yang disebut oleh Gustave von Grunebaum sebagai ”unity and variety”. Kekuatan budaya Islam telah melakukan ”sintesis” yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, dimana Islam dapat merambah masuk.

Dinamika kebudayaan tidak pernah berjalan linier. Setiap perkembangannya memiliki varian-varian yang kaya dan bernuansa. Tak ayal, kebudayaan dalam puspa ragam bentuk dan isinya telah dipahami sebagai ”jaringan-jaringan makna” hidup yang dikembangkan dan mengisi batin kehidupan sosial umat manusia.

Sabtu, 22 Desember 2012

Memperbaharui Iman Terkadang Tak sejalan Dengan Atribut Luar

Sumber : Gus Ghofur




Kota itu bagi banyak penghuninya sedang terlelap dalam

tidurnya. Bahkan bagi sebagian mereka seperti sedang mati. Nyala api dalam misykat penerang kota tinggal beberapa saja yang masih hidup. Tapi ada dua kelompok manusia yang justeru memiliki titik pandang yang berbeda: Baghdad larut malam sangat bergairah. Baghdad menggilar justru di malam hari.

Dua kelompok manusia ini hidup di dua tempat yang berbeda, dan melakukan aktivitas yang bukan saja tak sama, tapi lebih dari pada itu, bertentangan seratus delapan puluh derajat. Yang satu hidup di kedai-kedai malam yang sesak dengan nyanyian para biduanita dan ocehan para pemabuk. Sementara yang satunya lagi hidup dalam kedamaian rahmat dan lantunan nyanyian alam mendendangkan puji-pujian kepada Sang Pencipta.

Dua kelompok ini selalu ada, menghiasi persimpangan jalan kehidupan dunia, hinggi di era emas penegakan nilai-nilai keagamaan sekalipun.

Rabu, 19 Desember 2012

Serupa Tapi Tak Sama


Serupa tapi tak sama
Manusia namanya
Memang adanya
Ketika inisiatif selalu terbantah
Dan selalu menerima petuah
Berikut pengkabulan
Seakan api kian membara di dada
Bagai melawan tembok tebal
Andai aku sutradara handal
Sekenario ku buat se enak baiknya
Mungkin ini pluralisme hidup
Kemudian langkah apa selanjutnya..?
Hati tak tahu kemana mengarah
Kenapa ku sebut petuah
Semoga menjadi hikmah

Senin, 17 Desember 2012

Meneladani Rasulullah Untuk Membangun Desa



 Sumber : Cak Nun

Saya itu sebenarnya jarang tidur ketika maiyahan berlangsung. Namun dasar manusia, hal yang saya hindari ini terjadi juga, yakni ketika ada acara maiyahan dengan masyarakat Andong di Boyolali tanggal 16 Desember 2012 yang lalu. Maklum saja, sebelum itu seharian saya baru saja mendampingi mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berbicara dalam tema seminar kebangsaan, dan seharian berikutnya takziah teman.

“Sialnya”, pas enak-enaknya “ngorok”, saya seperti bermimpi dan sayup-sayup terdengar nama saya disebut Cak Nun untuk naik panggung. Tentu saja saya gelagapan. Masih dengan mata yang “hayub-hayuben” saya naik panggung, dan disitu beliau langsung “mengerjain” saya dan Pak Ilyas untuk sedikit “menganalisis” masyarakat Boyolali.

Wah ini tentu jadi antiklimaks, pikir saya. Mestinya kalau dalam pertandingan tinju, umumnya petinju ayam sayur dahulu yang naik pentas, namun ini justru sebaliknya, yakni petinju ayam sayur yang “memuncaki” acara setelah Mike Tyson bertanding. Tapi maiyahan tentu bukan acara pertandingan tinju, namun bagaimana kita mesti duduk melingkar, “sinau bareng” membaca dan menganalisis satu keadaan dan situasi, untuk kita cari jalan keluarnya sesuai tuntunan dan ajaran Allah SWT serta Rasulullah SAW. Ini adalah wujud cinta segitiga antara kita — Allah — dan Rasulullah.