Jumat, 30 September 2011

Indonesia is "blind" and "deaf"

    
Flashback
Memperjuangkan Tanah air, oleh para pahlawan sebelum  kemerdekaan dengan penuh pendieritaan yang bertubi tubi, hingga terciptanya Indonesia merdeka melalui deklarasi, sejak tahun 1945 silam, berkat tumpah darah, jerih payah perjuangan sang pahlawan yang tiada terkira. Akan tetapi sekarang hanya menjadi kenangan, yang tidak terurai rapi di benak para penguasa bangsa, di jadikan masa lalu yang tidak ada 'Ibrah untuk aplikasi dalam kehidupan bernegara.
Lihatlah keindahan flora fauna, yang terpajang di sudut sudut indonesia yang elok indah di rasa dan kita renungkan, sebagai ciptaan Tuhan yang perlu kita lestarikan. Seakan telah menuju sirna karena ulah mereka yang tidak mensyukuri, dan tertutupi tingkah laku para penguasa bangsa yang memalukan, sehinga pikiran tidak bisa mencerna lagi dengan baik untuk Tadabur atau merenungkan keindahan yang tertata rapi untuk melengkapi kehidupan manusia.


Alangkah Lucunya
Bagaimana tidak, ketika kita flashback sejarah silam para pahlawan, dengan perjuangannya. Sekarang sudah tidak ada harganya ketika melihat para penguasa yang bertingkah seperti anak kecil, yang tidak menghargai para perjuangan mereka. Korupsi sana sini, carut marutnya kepemimpinan, sehingga bukan wibawa lagi melanikan memalukan. Kemudian banyaknya asumsi sudah tidak adanya kepercayaan kembali terhadap kepemimpinan negara saat ini. Karena dengan berbagai kasus, terhidang di publik sehingga mudah masyarakat untuk mengeyam, bagaimana buruknya. Mulai, carut marutnya kepemimpinan, korupsi, keadilan yang berpihak, dll hingga melengkapi kebobrokan negeri. Seakan itu semuanya tidak ada sikap balas budi dan penghargaan terhadap para pahlawan kita terdahulu, yang kita hanya tinggal meneruskan. Tidak eloknya tiap tahun dan hapir setiap even kenegaraan semisal upacara bendera, memperingati 17san, sumpah pemuda, di laksanakan. Yang itu hanya bersifat simbolis semata, iya memang di setiap acara itu tidak jarang untuk meneladani sosok pahlawan, dan itu juga hanya sifatnya menghimbau, itulah bagi mereka yang bukan menggali substansialnya, setelah selesai ya selesai, hitung hitung ikut partisipan dalam acara, akan tetapi bukan berarti even even seperti di atas tidak baik.

# Hukum Carut Marut
Banyak sekali kelucuan di negeri ini, sebut saja soal hukum yang berpihak pada orang yang berduit, hukum yang berat sebelah alias tidak adil, lebih ringan dan carut marutnya dalam penegakan hukum. Sudah tidak asing lagi, ketika orang yang berduit itu menang dapat membeli apa yang di inginkan, semisal Gayus Tamabunan narapidana yang dapat keluar seenak hatinya kesana kemari bahkan luar negeri Singapura, Macau, Kuala Lumpur, menabjubkan memang. Yang terkenal  dengan weak dan kaca mata, dia beraksi untuk mengelabuhi mungsuh mungsuhnya.  Seorang mafia pajak dengan kumis lelenya cengar cengir  makan duit rakyat, seakan tidak punya beban dosa. Berapa banyak duit yang dia ambil, untuk menyup, keliling luar negeri sebagai obat penat di lapas. Tapi, seberapa berat hukuman yang dia dapat, contoh lain Artalyta Suryani, yang terkenal dengan istana dalam rutan,  yang baru baru ini, kasus Nazaruddin dengan kasus korupsi wisma atlit, yang kurang adanya transparansi dalam penegakan hukumnya. Dan masih banyak lagi, sebagai bukti hukum yang tidak dapat berdiri tegak tanpa memihak, siapapun orang itu, yang tidak memperdulikan jabatan, hitam puitihnya orang.

Coba kita bandingkan dengan kasus kasus cepere yang menimpa masyarakat kecil, hukum itu akan berlaku cepat, dan hukuman tak seringan hukumannya orang berjabat. Semisal kasus pencurian, seorang nenek tua bernama Minah berasal dari Banyu Mas Jawa Tengah, yang ketika melakukan aksinya pencurian 3 buah kakau, hanya kasus cepere di bandingkan kasus kasus kakap seperti di atas. Yang karena ulahnya nenek itu di ganjar vonis 1 bulan 15 hari. Dan juga kisah dua orang anak berasal dari Tasikmalaya Jawa Barat, yang masih duduk di bangku Sekolah Menenganh Pertama SMP, dengan tuduhan pencurian dua anak ayam.  Karena ulahnya kedua anak itu, di minta ganti rugi senilai 18 juta rupiah untuk mengganti 2 ekor ayam, yang kata si pemilik ayam mati karena terinjaknya. Karena kedua orang tuanya hanya buruh srabutan, maka tidak mampu membayarnya. Kemudian si pemilik ayam melaporkan ke pihak berwajib, kemudian kedua anak itu sempat di tahan 2 hari, kemudian hari keduanya menjalani sidang pertama secara tertutup, dan mereka di tuntut pasal 363 tentang pencurian dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.  Sungguh ironis memang, dimana hukum tidak berjalan dengan baik, tidak dapat berdiri tegak tanpa membedakan latar belakang dan jabatan.

# Lupa Daratan
Di tengah tengah gedung yang bercokol angkuh, terdapat gubuk reot milik masyarakat misikin, terombang ambing ingin runtuh tersapu angin, bocor sana sini ketika hujan turun. Harta yang berlimpah, kehidupan yang berlimpah ruah para petinggi bangsa sedangkan banyak orang miskin mengais sampah untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya, dan belum tahu nasib untuk hari esok, ironis memang.
Lihat saja ketika perencanaan terhadap pembangunan gedung DPR yang di perkirakan menelan dana hingga Rp 1,138 triliun. Betapa angkuhnya jika itu benar benar terlaksana, di tengah banyaknya masyarakat yang hidup tidak layak. Tinggal di gubug beratapkan jerami, beralaskan tanah, yang bingung ketika hujan melanda, karena pasti bocor. Keluarga yang hidup di kolong jembatan, kedinginan ketika malam datang, tidur di iringi suara gemuruh jembatan, dan belum tentu nyenyak. Masih banyaknya pengemis, orang kesulitan untuk menggapai pendidikan, sedangkan mau pergi ke sekolah harus menempuh jarak berkilo kilo meter, dan setelah sampai ke sekolahpun fasilitas kurang memadahi, bahkan ada sekolah yang hampir roboh, genting bocor, sapai sudah tidak layak pakai, hingga mendirikan tenda untuk meneruskan kegiatan belajar. Seandainya dana bertreliun itu di alokasian untuk membangun gedung sekolah, rumah untuk warga tidak mampu, sudah berapa ribu bangunan yang bisa terbangun dan itu lebih bermanfaat. Apakah pantas itu semua di lakukan, lagi lagi dengan adanya renovasi rumah anggota DPR, dengan segala fasilitasnya, entah itu prabot mewah, hingga kendaraan yang mewah pula,  adilkah semua ini.

Padahal telah banyak muncul dari berbagai kritikan, entah itu dengan media music, program program televisi, hingga demo turun langsung ke jalan. Masih saja para petinggi itu bersikap tak acuh, seakan  tuli dan buta. Tidak mendengar aspirasi rakyat, tidak melihat apa yang benar benar dialami masyarakat, tidak merasakan dengan hati nurani. Disamping perlakuannya sering mendapat kritikan seperti halnya ketika mau mengadakan pembangunan gedung yang menelan biaya berlebihan, juga berlandaskan kinerja para anggota dewan yang mengecewakan. Kinerja yang minim, sering mbolos, tidak hadir di gedung DPR, kalaupun hadir, ada yang hanya pindah ruang tidur. Petinggi lupa daratan, ketika kepemimpinan sudah di raih, kampanye yang berpua janji hanya sekedar bualan. Yang hanya pandai bicara dan cincingkan lengan baju, tapi bukan mengulurkan tangan dan melangkahkan kaki dengan tindakan yang kongkrit. Ya semoga Tuhan masih cinta kepada Indonesia, supaya menjadi Indonesia yang benar benar bersih dan merdeka, semoga.