Kamis, 24 Januari 2013

Toleransi, Filosofi Sayur Kotok




Hidup di perantauan, meranatu ke negeri orang untuk menimba ilmu. Jauh dari keluarga sanak saudara, pastilah membutuhkan tenaga lebih untuk memfasilitasi keperluan hidup sehari hari, ketika hidup bersama orang tua, hidup enak terasa serba ada dan serba dilayani, kemudian ketika terbang menuju negara asing, tiba tiba kehidupan itu berubah begitu saja. Akan tetapi hidup di perantauan pastilah akan menemukan dunia dan keluarga baru, yaitu teman teman yang akan tinggal dan hidup dalam satu atap rumah, untuk mengadu nasib bersama. Di sinilah keluarga baru, di mana satu sama lain harus saling melengkapi, melayani, juga berembuk bagaimana rumah itu tetap harmonis dan nyaman untuk untuk bernafas. Yang paling penting, ketika perut ini terisi maka damailah semua. Olleh karena itu, kami berinisiatif mengatur jadwal memasak supaya perut tenang dan perut tidak meronta ronta karena telat jadwal.


Waktu itu giliran saya memasak, heeem masak apa ya...? bertanya Tanya kebingungan. Ternyata di dalam kulkas terdapat sayuran, kentang, wortel, bumbu bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai,  lauk telur dan juga tempe makanan khas Indonesia. Kemudian terlintas, ini musim dingin pasti akan nikmat ketika dibuat sayur Kotok, bahan sudah komplit dan tinggal memasak. Sayur Kotok yaitu terbuat dari bahan bahan kombinasi sayuran di atas dengan tempe, kemudian ditambahi santan dan bumbu dapur lainnya, tapi santan susah didapat, maka saya siasati diganti dengan susu. Mungkin ada yang bertanya, ko sayur Kotok, namanya aneh juga. Kotok sendiri diambil dari bahasa jawa Kotok yang berarti galak, atau pemarah. Karena sayur kotok adalah salah satu sayur yang identik dengan berasa pedas, cocok untuk disandingkan dengan bubur juga nasi biasa. Mungkin inilah salah satu filosofi mengapa  dinamakan sayur kotok, bayangkan saja ketika melihat orang yang amarahya sedang memuncak muka kemudian merah, kemudian bandingkan dengan orang sedang makan makanan pedas.

Kemudian ketika saya hendak memasak, sayur Kotok yang identik dengan pedasnya, tapi teringat penghuni rumah dari berbagai macam daerah, ada sunda, jawa, ada yang suka pedas, dan tidak. Okelah, saya akan buat kotok versi saya sendiri, yaiutu pedasnya sedang, ada manisnya, gurih, dan juga menyehatkan karena 4 sehat 5 sempurna terpenuhi. Kalau ditelisik dari sinilah timbul sikap toleransi saling menghargai satu sama lain dalam lingkup kecil keluarga satu atap rumah. Karena keluarga kecil di perantauan bisa jadi menjadi sebuah ceminan keluarga masa depan, kemudian bersinggung dengan dunia yang lebih luas. Lho kenapa, dari sayur kemudian keluarga saja sampai nogmongin toleransi segala. Ketika sikap toleransi kepada sesama agama saja sukar, apalagi beda agama, mungkin kita mulai dari kehidupan kita yang raung lingkupnya lebih kecil, supaya mawas diri dan melatih diri.

Jadi, selamat makan…. :)