Senin, 24 Februari 2014

Sepenggal Kisah KH. Zainal Abidin Munawwir

Tidak ku sangka malam itu selepas maghrib tanggal 15-2-2014 terdengar kabar bahwa ulama’ tawadu’, sang wira’I KH. Zainal Abidin Munawwir asal Krapyak Yogyakarta menghembuskan nafas terahir menghadap Sang Kuasa. Sentak saya bengong, karena masih terngiang setelah lama tidak berjumpa, tentang sosok beliau yang terlihat dingin wajahnya, sudah sepuh (tua) tapi masih terlihat segar dan kuat, bahkan sehabis menunaikan sholat maghrib beliau selalu berdiri di pintu masjid, karena santri selalu menghadang beliau untuk bersalaman, dan beliaupun tanpa bosan meladeni.

Sehari kemudian, para alumni santri Krapyak di Mesir mengadakan sholat Ghoib beserta Tahlil. Di daerah Qutomiya Cairo Mesir rumah senior Krapyak, Bp. Muhammad Saifuddin, Ma. untuk mendoakan beliau dan menyatakan bahwa KH. Zainal memang sosok yang baik, solih, alim. Acara dihadiri alumni senior Krapyak di Mesir, Bapak Hunaifi, Bapak Ikhwani, dan Bapak Muhammad Saifudin sendiri. Acara ditutup dengan membacakan Manaqib KH. Zainal Abidin Munawwir yang disampaikan ketiga alumni senior tersebut.


Pada kesimpulannya, Mengutip dari KH. Ali Maksum selaku guru dan mas ipar dari KH. Zainal Abidin Munawwir “Zainal iku cagake langit,” begitu tutur sang guru kepada muridnya. Yang berarti KH. Zainal adalah tiang dari langit, selama beliau masih menghembuskan nafas langit ini belum akan runtuh. Kenapa guru sendiri mengakui terhadap muridnya sedemikian, karena tidak asing lagi bagi para santri Krapyak terhadap sosok KH. Zainal Abidin Munawwir tentang keZuhudaan, Wira’I, dan sosok yang Ikhlas.

Sebagai contoh, dikisahkan ketika beliau bepergian dengan muridnya ke suatu tempat, dan mendapati sebuah patung, seketika itu langsung menunduk. Dan menyuruh santrinya untuk tidak melihat patung tersebut. Selain itu, beliau sangat hati-hati ketika mau menerima sumbangan uang. Bahkan ketika beliau masih menjabat menjadi anggota DPR, beliau tidak mengambil gaji, dan lebih memilih “ngotel” atau bersepeda ke kantor dari pada menggunakan mobil dinas. Hal ini sangat kontradiksi dengan sebagian pemimpin negeri saat ini, yang cenderung glamor dan tidak puas akan harta dunia.

Tentu untuk mencapai tingkat Zuhud, Wira’I, ‘Alim, dan Ikhlas tidak akan diperoleh dengan cara instan. Tapi melalui Tajribah atau pengalaman yang banyak dan butuh waktu lama. Tidak seperti Ustadz artis zaman sekarang, yang terbilang mendapatkannya dengan cara instan dan belum mumpuni, sudah berani ngomong sana-sini. Hal ini berbeda dengan sosok KH. Zainal Abidin Munawwir, dari masa muda sudah terlihat dari sikap periulakum dan tutur katanya.


Kisah perjalanan beliau, tentu akan menjadi banyak inspirasi dan contoh bagi para santrinya atau yang mengenal bailau. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa, menerima amal dan ibadah, serta menempatkannya di tempat yang terbaik.