Minggu, 12 Februari 2012

Suasana & Asma al-Husna di Pesantren


AsmaMu selalu bergema di sela sela waktu, dan tidak mengenal waktu. Baik itu bersua melalui manusia manusia kecil, dewasa, hingga tua. Dan juga tidak mau ketinggalan, semua ciptaan seraya turut berdendang melantunkan AsmaMu, menyembah memuji dan bersujud padaMu. Allah Maha Besar, Pengasih, Penyayang, dan Engkaulah segala Maha, hanya kepadaMulah semuanya bertumpu, hanya kepadaMulah pujian pujian terseru. Semoga kita senantiasa selalu menjadi hamba yang menghamba.

Waktu itu masih berbaju putih, celana abu abu dan berkopiah hitam, berstatus pelajar tingkat Aliyah, tepatnya di Pondok Pesantren  Krapyak Ali Maksum Yogyakarta. Masa lalu yang selalu aku kenang, karena di situlah sumbangsing pesantren dengan tercetaknya pribadi pribadi baik, membentengi dari pola pikir, dan perlakuan yang negatif. Itu juga tidak luput dari dedikasi para kiai dan guru guru, yang berjuang keras untuk mencerdaskan anak didiknya, untuknya aku ucapkan banyak terimakasih. Begitu banyak kenangan tertulis mengisi diary Aliyah, karena hari hari silih berganti terisi dengan suasana baru dengan pengalaman yang berbeda pula. Hal itu tercipta, karena suasana pesantern dengan bertemunya berbagai macam karakter lingkugan atau teman santri, dengan tingkah masing masing, entah itu lucu, serius, bahkan terkadang sedikit "anarkis", dan tentu saja ada juga romantisme, karena romansa dengan lawan jenis "santri putra dengan santri putri" selalu menjadi cerita yang menarik untuk didengar, ya itulah namanya hidup berjamaah. Pasti akan menemukan suatu hal yang baru, dan banyak perbedaan yang ada ada saja.


Selain itu, suasana intensitas kepesantrenan menambah nuansa hangat relgius. Seiring antusiasme santri dalam mengkaji ilmu, meliputi sorogan "para santri setoran atau membaca kitab di hadapan guru, yang sebelumnya santri melakukan pengkajian terlebih dahulu", bandongan "guru membacakan dan menjelaskan esensi kitab kepada para santri". Berikutnya aktifitas rutinitas peribadatan, meliputi ibadah wajib serta berjamaah, membaca kitab suci, dan melantunkan puji pujian atas namaMu dan sholawat atas Nabimu, dll.

Dan salah satu puji pujian yang masih teringat dan membuat rindu akan suasana pesantren, yaitu lantunan Asma al-Husna. Yang biasa dilakukan setiap kali akan melakukan sholat berjamaah maghrib dan subuh, dan itu menjadi rutinitas yang masih berjalan hingga sekarang, semoga juga untuk seterusnya.
Suatu yang menarik dari Asma al-Husna di sini, yaitu bukan berbentuk perlafadz yang biasa kita temui, atau seperti yang terdapat di bagian pembukaan atau bagian terahir dalam kitab al-Qur'an. Akan tetapi Asma al-Husna bertuliskan nadzam, seperti halnya syi'ir yang nantinya bagus untuk di lantunkan.

Kegiatan itu menjadi rutinitas harian, yang biasa dilakukan oleh para santri baik itu santri tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah dan juga para guru pembimbing dengan bergiliran. Mereka berkumpul dengan wajah wajah sumringah sambil menunggu gilirannya, yang bertempat di Mushola asrama, dengan menggunakan pengeras suara. Jadi hampir dipastikan hingga sudut sudut asrama terdengar lantunan Asma mulia itu. Hal itu membuat suasana religius lebih dan selalu terasa, baik itu ketika jelang maghrib, subuh maupun waktu waktu lainnya. Khususnya ketika waktu matahari hendak menyincingkan cahanya, begitu juga ketika matahari hendak menampakkan sinarnya, dari pengeras suara itu selalu setia menghadirkan nuansa khas, dengan mengeluarkan suara dengan nada penuh samngat mangumandangkan AsmaMu.
Selain rutinitas yang insyaAllah berkah dan menyejukkan untuk didengar. Hal itu bagi santri santri yang lalin, menjadi sebagai tanda untuk segera beranjak dari aktifitas, bebersih diri dan melanjutkan dengan berjama'ah sholat maghrib, dan beranjak bangun dari istirahat  untuk mecuci muka beewudlu kemudian bersiap untuk sholat subuh.

Ya begitulah sedikit dari gambaran tentang pesantern Krapyak, dengan berbagi aktifitasnya. Yang membuat, memori tentangnya terurai kembali, sehingga rasa rindu itu muncul, kemudian dengan apapun caranya berusaha untuk flashback, yang setidaknya untuk bisa menutupi kerinduan itu.