Selasa, 10 September 2013

Prof. Dr. Ahmed Mahmod Karimah (Ulama' al-Azhar Mesir) Dalam Kuliahnya Di UIN Syarif Hidayatullah

Kedatangan salah satu Ulama Al-Azhar ahli Ushul Fiqh Prof. Dr. Ahmed Mahmod Karimah dimanfaatkan benar oleh Fak. Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam kunjungan beliau sebagai delegasi Al-Azhar atas undangan Kementerian Agama RI untuk menghadiri Simposium Internasional II tentang Madrasah in The Global Context, sebagai salah satu pembicara utama, beliau masih menyempatkan waktunya yang sangat singkat di Jakarta untuk memberikan kuliah umum di FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh FDI pada hari Rabu, 4 September 2013 tersebut, beliau membuka pemaparannya dengan menyampaikan betapa pentingnya ilmu  dan ahli ilmu memiliki derajat yang sangat tinggi. Dilanjutkan kemudian dengan pemaparan terkait perbedaan dan pertentangan pendapat madzhab yang terjadi di antara ulama fikih.

Dalam presentasinya beliau menekankan pentingnya saling menghargai dan tetap menghormati pendapat yang berbeda. Karena sebenarnya perbedaan tersebut tidak dalam level dasar prinsip (syariah), melainkan sebatas furu’ (fikih). Dan tidak diperkenankan pula mengkultuskan satu madzhab dari yang lainnya, karena semua pendapat tersebut berangkat dari upaya ijtihad para ulama. Oleh karenanya tidak pula diperkenankan bagi kita untuk membenarkan satu dari madzhab lainnya, karena setiap itjihad dapat mengandung kebenaran dan kesalahan, dan hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang mutlak.

Jumat, 06 September 2013

Janji Kemerdekaan


Kibarannya membanggakan. Merah-Putih berkibar gagah di tiang bambu depan rumah batu. Rumah sepetak kecil, alasnya tanah, dan atapnya genteng berlumut. Berlokasi di tepi rel kereta tak jauh dari Stasiun Jatibarang, rumah batu itu polos tanpa polesan material mewah.

Pemiliknya jelas masih miskin. Namun, dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi ribuan penumpang kereta yang tiap hari lewat di depan rumahnya: Kami juga pemilik sah republik ini. Kami percaya di bawah bendera ini kami juga akan sejahtera!

Yang miskin telah menyatakan cinta dan bangga kepada negerinya. Keseharian hidupnya mungkin sulit, mungkin serba kerontang. Mungkin tak punya tabungan di bank, tetapi tabungan cintanya kepada republik ini luar biasa banyak. Negeri ini masih dicintai dan dibanggakan rakyatnya tanpa syarat.