Rabu, 26 Juni 2013

Sekilas Pandang Tentang Anis Baswedan

“Indonesia tak ubahnya negara kolonial, seperti dahulu belanda dan jepang menjajah.” Begitulah perkataan yang kerap kali disuarakan oleh Anis Baswedan PH.D., dalam menghadapi kondisi negara saat ini. Mereka beraanggapan bahwa warga Indonesia bukanlah sebagai tolak ukur aset negara, melainkan aset adalah materi baik dari sektor kekayaan alam maupun barang tambang yang bisa dimanfaatkan dan menjadi pundi-pundi uang. Beliau yang sekarang masih menjabat menjadi Rektor Universitas Paramadina, dan penggagas Indonesia Mengajar, melihat bahwa wacana fundamental ini haruslah diubah. Karena telah terlalu lama menina bobokan masyarakat. Oleh karena itu, penting adanya tindakan guna merekonstruksi ke wacana baru, yaitu Indonesia akan maju dengan aset sumber daya mansianya. Bukan dari segi materi, akan tetapi memanfaatkan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki bagi setiap lapisan masyarakat.


Bapak Anis Baswedan dalam hal ini mengutip dari seorang diplomat berwarga negara Singapura, yaitu Khisor Mahbubani. Dalam kutipannya mengatakan “salah satu kunci sukses untuk tumbuh kembang begitu pesat dari berbagai negara di Asia, yaitu diadobsinya meritokrasi dan diberikannya perhatiannya dalam pengembangan sain, teknologi, dan edukasi.” Dengan revivalisme dan saling bersinerginya antara sain, teknologi, dan edukasi di nusantara ini, tentunya akan menjadi awal Indonesia berkembang. Kekayaan materi sumber alam yang banyak dimiliki dari pihak asing, akan dapat dikuasai kembali seiring kualitas dan kuantitas masyarakat yang semakin meningkat. Dan jangan biarkan kembali negara  asing memberikan catatan kelam terhadap negeri tercinta ini, akan tetapi sekarang gilirannya Indonesia memberikan warna terhadap dunia.

Mungkin wacana ini muncul dari kegelisahan beliau melihat masih rendahnya pendidikan di Indonesia, sehingga sering sekali dalam pidato-pidatonya menyampaikan pentingnya meritokrasi, ataupun semangat pendidikan. Kemudian juga muncul ide Indonesia Mengajar, dimana para calon pengajar handal dikirim ke plosok-plosok negeri untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar. Tentu kegiatan ini sangat bermanfaat, dan akan banyak berdampak positif bagi negara. Beliau Juga menyampaikan, tidak usah menunggu pemerintah untuk melakukan, selagi kita bisa mengapa tidak. Menurut pribadi, Bapak Anis pantas menerima julukan Bapak Pendidikan Indonesia mengingat, suaranya yang lantang dan tertus menerus dalam menyuarakan pendidikan dan tidak hanya pandai dalam bersuara tapi juga langsung turun tangan turut menanggulangi dalam masalah pendidikan ini.

Semoga orang-orang seperti beliau selalu diberi kesehatan dan panjang umur, karena kapabilitas dan kredibilitasnyanya yang sangat dibutuhkan guna sebagai pionir dan turut ikut serta dalam memperbaiki bangsa.