Senin, 30 Juli 2012

Kisah Puasa Mesir Hingga Nusantara



Puji syukur selalu ku panjatkan atas keagunganMu Allah SWT, dan sholawat serta salam senantiasa ku dendangkan atas baginda Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua tercurah syafaatnya di hari ahir nanti.

Puasa ke 3 Ramadhan 1433 H/22 juli 2012, waktu itu siang bolong perut kosong, bayangannya tinggal kolak singkong, menu manis legit pas untuk awal buka puasa, selain kurma. Tiba tiba, handphone berdering dengan nada "yogyakarta" milik Katon bagaskara. Ternyata teman saya Jasriwaldi, anak Padang yang sekarang dia tinggal di Ganubi, cukup dekat dengan daerah tempat  tinggal ku, yaitu Gihaz Tajamu' Awwal. Berikut percakapan kami dalam telepon,


Jas :  “Assalamualaikum zad”
Zad : “Waalaikumsalam” jawabku dengan gaya lemas.
Jas : “Gimana kabarnya, sehat kan antum..?” tanya dia.
Zad : “Alhamdulillah, sehat... antum gimana tadz, sehat..?" kembali tanyaku.
Jas : “Alhamdulillah sehat juga, antum buka sama teman2 tetangga gimana, maksudnya masak atau gimana gitu?”
Zad : “Ya....seperti biasa, masak. Ada apa emangnya..?" jawabku sambil kepikiran, wah bakalan ada yang enak nih,hehe maklum kondisi perut lagi kosong.
Jas : “Oooo kebetulan ni, ada temen mesir yang rencananya mau ngasih iftor "makanan untuk berbuka", dan kemungkinan bisa iftor itu bisa sampai ahir Romadhon.”
Zad : “Waah, yang bener  ni" jawabku, heran sambil sumringah, ternyata benar..!!.
Jas : “Beneran ini, kira kira ada berapa anak di situ zad, sama tetanga tetanggamu..?" tannya dia dengan gaya meyakinkan.
Zad : “Alhamdulillah kalau gitu, di sini ada 4 rumah, tapi yang 1 saya belum tahu dimana tempatnya, soalnya masih baru, cuman kemaren sempat ketemu. Tapi kalau untuk yang 3 rumah insyaAllah saya tahu, jumlahnya sekitar 15 orang.”
Jas : “Oooo gitu ya, boleh boleh. Nanti saya bilang ke orangya, ustadz Kholid namanya. Nanti sebelum maghrib biar hubungi nomer antum, beliau sudah saya kasih nomer antum.”
Zad : “Waduuh, makasih banyak ni tadz...sekali lagi makasih ni.. “
Jas : “Iya, sama sama zad, ini ustadz kholid emang baik banget.”
Zad : “Ooo gitu, siiplah.. makasih banyak ni..”
Jas : “Ok... santai ja, yaudah dulu ya.. wassalamualaikum.”
Zad : Waalaikumsalam "jawabku sambil senyum2"

Walhasil, tiap hari menjelang berbuka kami mendapat kiriman, berupa 15 bungkus  menu makanan besar isinya pun istimewa, dengan lauk ikan, ayam, daging beserta nasi, sayur, dan buah buahan. SubkhanaAllah, Ramadhan bulan penuh berkah, kami cuma bisa bilang Alkhamdulillah dan sangat berterimakasih kepada beliau, Ustadz Kholid, dkk semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya, amiin. 

Tapi bukan kami saja yang mengalami, masih banyak di daerah lain dari teman teman mahasiswa yang merasakan hal yang sama. Dan juga banyak dari masjid besar yang berada di Mesir menyediakan iftor, atau biasa kami kenal ma’idah al rohman sengaja disediakan untuk para pengunjung masjid tersebut, tentunya dengan menu istimewa, maka tidak heran penduduk setempat dan mahasiswa bebondong bondong datang ke masjid tersebut dengan manksud mencari ma’idah al rohman.

Mungkin peristiwa semacam ini sudah mentradisi di Mesir pada khususnya dan Islam pada umumnya. Mengingat banyak cerita dari teman teman yang sempat menikmati Rhomadon di tanah suci Makkah, banyak  ma’idah al rohman berceceran di mana mana, pasalnya para muhsinin “Orang orang yang baik hati, atau dermawan” dengan sengaja mencari orang yang hendak iftor untuk diberikan makanan. Mereka tidak tanggung tanggung dalam mengeluarkan makanan, dari segi banyaknya maupun dari menu menunya yang mewah. Karena mereka juga tahu dan sadar terhadap janji janji Allah SWT, dari pahala atas perbuatan yang mereka lakukan. Dalam Hadits Nabi Muhammad SAW juga telah disebutkan,

 "Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun." (HR. At Tirmidzi, beliau berkata. "Hadits Hasan Shahih")

Yang saya lihat dan alami tradisi seperti itu juga ada di Nusantara, tepatnya di desa saya Mlangi Jogjakarta mungkin di daerah lain juga ada. Di desa saya kalau di masjid hampir tiap hari tersedia menu berbuka dan sebelumnya diadakan pengajian kitab kitab klasik sebagi menu ngabuburit. Moment seperti itu digunakan para santri untuk mengaji mencari ilmu dan mencari makanan untuk berbuka, kebetulan memang desa saya terdapat banyak pesantren berkisar 10 pesantren. Kemudian warga sekitar menggunakan moment bulan puasa untuk saling berbagi menjalin silaturahim, dengan menghantar menu berbuka kepada tetangga sekitar dan saudara.