Minggu, 01 Januari 2012

Refleksi Tahun Baru Bersama Puisinya Gus Mus

Selamat tahun baru kawan..! 

Kawan,, sudah tahun baru lagi, belum juga tiba kah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri?, 
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabNya. 

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya? 
Musliminkah? 
Mu'minin, Muttaqin, Kholifah Alloh, ummat muhammad kah kita? 
Khoiro ummatin kah kita? 
Atau kita sama saja dengan makhluk lain? atau bahkan lebih rendah lagi, hanya budak-budak perut dan kelamin. 

Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib, rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan, 
Lebih pipih dari kain rok perempuan. 

Betapapun tersiksa, kita khusu' didepan masa dan tiba-tiba buas dan binal justru disaat sendiri bersamanya. 

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug atau pernyataan setia pegawai rendah aja, 

Kosong tak berdaya. 


Sholat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu, 

Lebih cepat daripada menghirup kopi panas, 
Dan lebih ramai dari lamunan seribu anak muda, 
Do'a kita sesudahnya justru lebih serius, kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di sorga. 

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat, 
Tanpa menggeser acara buat syahwat. 
Ketika datang lapar atau haus, kita manggut-manggut 
Ooh.. Beginikah rasanya.. dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat. 

Zakat kita jauh lebih dari berat terasa, dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia. 
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda. 

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, 
Mencari pengalaman spiritual dan material, 
Membuang uang kecil dan dosa besar, 
Lalu pulang membawa lebel suci 
Asli made in Saudi 'Haji'. 

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersamanya, 
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya, 
Mensiasati dunia sebagai kholifahNya. 

Kawan,, tak terasa kita memang semakin pintar, 
Mungkin kedudukan kita sebagai kholifah mempercepat proses kematangan kita, 
Paling tidak kita semakin pintar berdalih. 
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan, 
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran, 
Melacur dan menipu demi keselamatan, 
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan, 
Memukul dan mencaci demi pendidikan. 
Berbuat semaunya demi kemerdekaan, 
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman, membiarkan kemungkaran demi kedamaian, 
Pendek kata demi semua yang baik halalah semua sampaipun yang paling tidak baik. 

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman, para mubaligh dan kiyai, penyambung lidah nabi. 

Jangan ganggu mereka! 

Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya, 
Para seniman sedang merenungkan apa saja, 
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana, 
Para kiyai sedang sibuk berfatwa dan berdo'a, 
Para pemimpin sedang mengatur semuanya. 
Biarkan mereka diatas sana, menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri. 

Kawan,, selamat tahun baru!!! 

Belum juga tiba kah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri??..