Jumat, 29 Oktober 2010

Sepanjang 80 Coret

Waktu itu pagi, ketika matahari mulai menampakkan teriknya. Manusia sedang bergegas untuk memulai aktifitas. Dan akupun begitu, mandi pagi, sarapan, dan bergegas untuk berangkat kuliah. Keluar rumah dengan senang hari, mungkin karena ingin menyambut hari dengan gembira, berjalan dan menunggu tramcopun (angkutan umum) terasa menyenangkan. Ahirnya tramco datang, dengan penumpang yang agak lenggang, karena memang pagi masih sepi, dan dengan gesit tramco itu menuju terminal Zahro.
Sampailah di Zahro, menunggu datangya 80 coret (nama bus, bertujuan komplek Darosah Al-Azhar, Husain). Sungguh menjemukan menunggu 80 coret, bisa lebih dari 30 menit bus baru datang. Yah namanya juga hitam-hitam kereta api, Walaupun sejelek-jeleknya 80 coret, penumpang tetap setia menunggu, dari arah Hay-10. Tiba-tiba 80 coret datang dari arah kanan, yang kebetulan aku sedang duduk mengarah ke arah sohro, padang pasir yang luas. Dengan bismillah aku masuk bus, aku pilih tempat duduk belakang pojok kiri, yang memang menjadi tempat favoritku, karena bisa leluasa melihat kedepan, kesamping arah luar cedela, untuk tidurpun juga nyaman.

Bus 80 coret yang aku naiki, kebetulan bus yang sudah tua warna hijau, kondisi yang sudah reot mesinnya, bunyinya tak karuan lagi, sungguh membosankan. Tapi yah bagaimana lagi, itu alternatif paling mudah dan murah untuk menuju kampus. Walaupun kelihatan tua, busnya berjalan super cepat , mungkin itu sudah mendarah daging atau ciri has orang mesir, kalau mengendarai kendaran bermotor dengan kecepatan tinggi dan sering membunyikan bel, mungkin tangan itu terasa gatal kalau 2 atau 3 menit tidah membunyikan bel. Dengan suara mesinnya yang has, alias berisik, 80 coret melaju kencang, menuju kawasan Zahro dan Hay-10, kemudian satu demi satu penumpang yang sudah menunggu masuk ke bus, sampai bus itu penuh terisi. Tapi alhamdulillah sampai Bawabat 2, tidak ramai penumpang. Tiba-tiba aku terpana, kaget melihat seorang wanita Indonesia cantik berkerudung ungu, sedang menghadang bus. Ternyata wanita itu menanti kedatangan 80 coret, itulah keistimewaan 80 coret, walaupun jelek, wanita cantik tidak enggan memasukinya. Dia masuk dari pintu belakang, yang kebetulan aku juga duduk di belakang, kecantikan wanita itu begitu terlihat. Dia menuju kedepan, akan tetapi kursi sudah terisi penuh, ahirnya dia berdiri. Aku merasa kasihan melihatnya, karena berdiri berjubelan dengan penumpang orang mesir atau yang lainnya.Terus mengapa aku tersenyum agak sedikit ngelantur, oh mungkin karena tatapanku jelas memandangya, sebagai bumbu-bumbu perjalanan supaya tidak sepah.

Selang beberapa menit, ada seseorang lelaki indonesia menjadi pahlawan, menawarkan tempat duduknya, karena si wanita itu tepat beridiri di pinggir lelaki itu. Ah aku tidak bisa menatapmu lagi, suasana terisi kembali kebisingan mesin, dan riuhnya penumpang. Seperempat perjalanan, ada beberapa segerombolan mesir ikut naik 80 coret. Ahirnya bus super penuh, suasana tambah riuh, tambahin bau-bau yang cukup menusuk hidung. Dari arah tengah bus, ada suara yang cukup lantang, ternyata si mesir dengan si mesir yang lainya yang saling berjubelan dengan nada keras bertengkar, wah memang suasana bus yang menyebalkan. Ahirnya, aku mengalihkan padangan ke luar, karena bosan dengan suasana bus. Suasana luar cukup menyenangkan, karena tidak henti-hentinya wanita-wanita mesir itu memanjakan mata yang lapar, yah walaupun menor tapi masih terlihat menawan, cukuplah itu menambah aroma yang baru. Sampailah di kuliah banat (kampus Al-Azhar putri), bus berhenti yang ternyata wanita cantik berkrudung ungu itu turun, berjalan dengan santai menuju kampus.

Mungkin hannya cukup sekian aku dapat mengagumimu, dalam hatiku masih penasaran siapa . Masih setengah perjalanan yang cukup melelahkan, ahirnya pilihan terahir, memanjakan mataku ini yang rasanya masih berat untuk di ajak bergulat dengan diktat, yah semoga dapat bertemu lagi di alam bawah sadar nanti. Sampai jumpalagi, semoga dapat berjumpa kembali.