Jumat, 01 Oktober 2010

Pencuri yang Sopan

Di bulan Romadlon, yang sudah berjalan sepertiga. Saat manusia tajamu awwal (nama daerah kawasan cairo) masih dalam terlelap kondisi setengah mimpi,karena di musim panas malam terasa siang, pagi terasa petang ahirnya waktu yang tepat untuk memanjakan tubuh tubuh yang lemas mata yang lelah. Waktu itu fajar belom menampakkan semangatnya, kira kira pukul 08:00. Yang memang mingkin itu sudah ada rencana, dan pengintaian sejak lama, pagi pagi pencuri itu datang tidak tahu dari arah mana, pencuri menyelinap dengan tenang, mengambil beberpa lembar uang yang jumlahnya lumayan banyak, 600 pound. Aku yang sedang mesranya bersanding dengan bantal guling, yang di sampingku juga ada beberapa pakian diantaranya ada dua celana cukup bermerek tak luput dari rampasan si pencuri itu. Keluar dari kamar setelah mengambil uang dan celana, keluar arah ruamg tamu, mengambil 1 buah CPU komputer, kemudian keluar lewat pintu depan.



Di perkirakan maling masuk lewat cendela kamar ku, yang agak sedikit terbuka. Yang aku terheran heran, begitu mudah maling itu mengambil, tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, dan maling mengambil pakian yang ada di sebelahku tepat, akunya tidak terbangun sama sekali, apa maling itu pake sirep (istilah jawa). Temanku yang juga tertidur  satu kamar juga tidak merasakan hawa panas si maling itu. Setelah sekitar 10  menit maling itu berhasil membawa barang barang curiannya, aku bangun dengan suasana rumah yang berbeda, cedela kamar menganga, lemari yang terbuka lebar, dan pintu yang tidak terkunci. Ternyata memang benar ada maling yang mampir ke rumahku.

Selang beberapa hari, bekas kesal sakit hati sama si pencuri itu belum hilang, eh dia bersilaturahim kembali dengan rumahku berserta penghuninya, yang pertama maling itu menyambangi kamarku yang diperkirakan lewat cedela kamarku, dan yang kedua kalinya dia mampir ke kamar sebelahku, tepatnya kamar temanku. Dan rauplah 1 handphone dan selembar uang 100 pound, dia juga sempat mengeledah dompet, yang ternyata tidak berisi. Saat maling itu hendak keluar kamar, yang masuk melalui pintu balkon besi yang belum sempat terkunci yang bersampingan dengan kamar itu, temanku terbangun tidaak sempat berteriak atau gebukin yang adanya malah bingung linglung, dan tertawa karena maling itu dengan gesit meloncat dari balkon sambil mengycapkan Assalamuaalaikum.