Minggu, 08 Agustus 2010

Cintaku Bertemu di Padang Pasir

Mandi, sikat gigi, dandan yah seperti halnya orang yang mau bepergian. Packing juga tidak ketinggalan, karena hari ini tepatnya 12:00 clt waktu malam, mau berangkat rihlah alias piknik ke hurgada. Sebuah objek pantai yang indah, itupun baru terdengar dari mulut teman yang pernah menyambangi pantai itu. Ceritanya di pantai hurgada terdapat sebuah pulau Paradise yang memang menjadi tujuan utama ruhlah. Di samping pantai dan pulau yang indah, juga pengunjung yang mayoritas bule, dengan otomatis  terdapat pemandangan para bule itu memanjakan tubuhnya dengan terik matahari. Apakah demikian, hatiku bertannya. Setelah mandi, tepatnya habis sholat isya' yang memang cuaca lagi memanasnya, begitu panas membakar kulit yang tampaknya sudah sawo matang. Kulitpun ikut haus, terasa layu, ibarat bunga yang akan mekar ketika di siram secara rutin.Rasanya tubuh ini kembali segar ketika teraliri air. Dan setelah, packing siap untuk meluncur menuju daerah bawabat 3, letak dimana kita berkumul, untuk start awal menuju pantai hurgada.15 sampai 30 menit menunggu, yang ternyata bus yang telah di sewa terlambat selama dua jam, ahirnya jam 02:00 berangkat, dengan muka masam karena terasa lelah menunggu. Akan tetapi masih semangat untuk menuju pantai. Bismillahi tawakaltu 'alaAllah, berangkatlah bus kita.

Waktu itu sudah menunjukkan waktu malam, mata yang tak kuat lagi untuk terbuka tajam, ahirnya sedikit sedikit mata terpejam. Yah walupun sesekali terbangun, karena tidak nyaman, ku alihkan pandanganku, ternyata pemandangan luar, malam yang begitu eksotis hamparan padang pasir luas menemani separuh perjalanan. Dan itu tidak akan ditemui di negeriku sana. Akupun tidak enggan mengeluarkan kamera, untuk mengambil satu dua gambar yang begitu menarik. Di separuh perjalanan, berhenti di tempat dimana para supir beristirahat sejenak, sedikti melenturkan otot, merebahkan badan, dan mengistirahatkan penumpangnya yang sudah terasa lelah. Waktu itu subuh hari, tak lupa sholat subuh sekalian. Setelah sholat. Perjalanan menuju dimana bus tadi berhenti, ternyata ada seseorang wanita yang kebetulan satu rombongan, yang tak kuat mataku untuk menghindar sekedar untuk menatap lebar. Oh begitukan dirimu pertama menyapa mata hatiku, berbunga bunga hati ini, harum kanan kiri terasa. Setelah berkumpul dan peserta rihlah naik bus menuju kursi yang sudah di tentukan, ternyata sungguh kebetulan wanita itu duduk di depanku, yang berduan bersamping dengan temanku yang bernama Nisa. Entah mengapa, tiba tiba tangan ini masuk saku mengambil sebuah handphone, tak ragu aku kirim sms ke Nisa temanku yang duduk bersampingan itu. SMS terkirim, yang kurang lebih sms itu berbunyi, siapa teman yang duduk disampingmu itu, kalu status lajang, bolehlah aku kenal dia. Selang 3 menit, sms masuk, yang berbunyi dengan senang hati aku mengenalkan, kebetulan dia juga sedang melajang atau jomblo. Sms yang meyakinkan, kayaknya iu keberuntungan buatku..

Kemudian dengan tidak ragu aku untuk meneruskan sms itu, yang ahirnya berkenalan, pertama lewat sebuah sms yang beriisi perkenalan, yang ku tannyakan namanya. Tidak lupa ku awali dengan salam, kemudian kalimat, bolehkan perkenalkan namamu, aku sendiri aries dari jogja. Kemudian sms masuk, diapun menjawab, waalikumsalam, aku Neswah asalnya tidak jauh ko dari kotanya mas, aku dari semarang. Begitu bagahianya aku, ternyata responnya positif. Benar benar tidak ku sangka, sungguh lama ku tapaki dalam pencarian, semoga itu memang milikku. Beberapa sms telah ku kirim, yah sebagi bumbu bumbu perkenalan selama perjalanan dalam bus. Setelah sampai penginapan, pesertapun turun menuju hotel dan kamar yang telah di tentukan, aku mendapat kamar nomer 39, ternyata dalam pendakianku menuju 39, di belakang diam diam dan pelan juga berjalan menapaki tangga, aku tengok ternyata Neswah dengan temanku Nisa, diapun sedikit tersipu malu. Sampailah di kamar hotel, sedikit ku tengok kebelakang, kebetulan dia sedang memasuki kamar nomer 87, yang bersebelahan dengan kamarku.

Oh, apa ini memang takdirku, berawal dari pandangan sekilas sekarang malah mendekat, yah semoga. Sembari istirahat, sms itu tetap meluncur. Dalam hati berkata, yo mbok istiraht dulu, baru saja sampai hotel ko main langsung saja. Tetapi tidak apalah, moga respon itu baik, sudah ku sangka, tetap saja, saat ini keberuntungan berpihak kepadaku. Diapun kirim sms balik, dengan tanggapan yang meyakinkan dan menggembirakn. Tiba tiba, rasa ingin bertemu empat mata itu muncul, tanpa pikir panjang dengan tidak ragu , yang pertama dengan sms, sekarang ku cari nomernya. Iya, pertama huruf N, Neswah, tekan panggil. Tuut, tuut, tuut, hati ini berdebar, menunggu jawaban dari neswah, gadis manis itu. Ayo di angkat, dalam hatiku berharap. Ahirnya di angkat juga, salam dan basa basipun menjadi menu utama dalam obrolan itu, setelah itu to the point saja, aku berkata, Neswah, entar malem ada acara engga..?, begitu pertannyaan terahirku, diapun menjawab, entar malem ya Mas, tidak ko Mas, Neswah ngangur, tidak ada kegiatan. Kalau begitu boleh donk, entar malem kita bertemu. Dengan lagak yang sedikit malu, diapun menjawab, iya mas boleh, pi jangan malam malam ya mas. Dengan senang hati, aku menjawab, siap nanti habis isya, aku tunggu di bawah. Ahirnya, ku ahiri obrolan itu dengan salam. Adzan isya bekumandang, dan setelah iqomat, sesegera sholat dan berangkat. Dandan yang rapi wewangianpun tidak lupa. Aku datang yang lebih awal, kemudian Dia dating dari arh tangga, aduh aduh memang kau cantik, matamu itu yang indah, hidungmu mancung, dan wajahmu yang manis. Ibarat nilai 9, 5 mendekati kesempurnaan. Ketemu, berbincang bincang, ngobrol sana kemari, jalan jalan serasa jalan ini di buat untuk kita berdua.

Di pagi harinya, baru perjalanan menuju pantai yang jaraknya di tempuh sekitar 15 menit dengan bus, dari hotel. Sampailah di pantai, yang itu baru pintu masuk menuju pulau Paradise, tujuan utama kita. Kebetulan, panitia rihlah, memaang sudah merencanakan, sebelum perjalanan menuju pulau, peserta yang ingin mandi di pantai, silahkan puas puaskan dahulu. Huhu asiknya mandi di panatai, walaupun begitu asin dan pedih di mata karena masih terhitung laut merah, tetap saja terhipnotis pemandangan pantai yang indah, pasir putih dan airnya yang bening, alunan ombak yang mendayu, menjadi banyak peminat untuk berenang. Setelah puas, mandi berenang di pantai langsung siap siap menuju pulau Paradise, menggunakn kapal. Kebetulan karena pesertanya cukup banyak, dan setiap kapal hannya boleh terisi 25 orang, ahirnya menjadi 2 kloter. Dengan cepat langsung aku hubungi Neswah, kamu ikut aku ya, naik kapal yang pertama. Diapun membalas, iya mas, tunggu sebentar aku menyusul kesana. Dari awal, yang memang begitu bahagianya aku bisa mengenal sosok Neswah, yang menurutku setelah terjadi pertemuan dan obrolan menarik. Dia adalah sosok yang anggun dan cukup dewasa, tidak ketinggalan juga kalau Neswah itu termasuk mahsiswi yang teladan, dan baik hati stelah sebelumnya aku konfirmasi pada teman akrabnya Nisa, yang duduk bersampingan tadi. Berangkatlah kapal itu, sambil menikmati perjalanan yang begitu mengasikkan, melihat dasar laut yang terlihat bening, deburan ombak yang terterjang kapal.. Akupun mengajak Neswah, bercengkrama ria obrol kesana kemari,  seperti sudah lama kenal, bosan di ujung kapal, pindah ke belakang, samping juga tidak terlewati, sesekali jepret sana sini bergaya narsis . Dalam obrolan itu, terlintas di pikiranku, apa ini memang jodohku, sebegitu dekat padahal baru sehari satu malam. Apa dia sudah mengambil hatiku, dengan ke anggunannya, apakah ini benar, begitu banyak pertannyan terlintas. Ahirnya, 2 jam kita menunggu yang tidak terasa, karena terlarut dalam obrolan manis itu, sampailah di pulau Paradise. Kaget mataku terasa, ternyata benar omongan temenku tadi, dengan pantai yang begitu indah, pasir putih, airnya yang bening bersih, tidak ketinggalan begitu banyaknya bule, malah kebannyakan orang bule berambut pirang. Yang tidak ragu memanjakan kulitnya terbakar terik mathari. Teman teman rihlah begitu bersemangat ingin segera menikmati deburan ombak yang mengalun satai itu, sebari matananya lirik kesana kemari tidak jelas, karena ada fenomena alam yang memang jarang terlihat oleh mata perjaka dan perawan. Akupun tidak mau ketinngaln, segera mluncur kepantai sesekali mataku memandang Neswah yang sedang berenang ria dengan teman sehawa. Kayknya, badan terasa capek beranang terus, ahirnya tempat rindang yang kebetulan ada payungya menjadi pilihanku untuk bertepi, mengistirahtkan badan sejenak. Dari arah pantai, tidak lama kemudian Neswah berjalan, sanatai menuju arahku, tatapku heran benarkah itu Neswah. Sudah pastilagi, kalau itu memang benar, si gadis anggun itu, Neswah. Mengapa hatku ini berdebar kencang. Tidak seperti biasanya detak detik itu lebih kencang. Huh santailah, walaupun sedikit agak gugup, menanggapi sesapa salam dari Neswah dengan suara lembutnya, Assalamualaikum mas, lembut sapa dia, dengan sedikit gugup akupun menjawab, Waalikumsalam Neswah. Ada apa Neswah, mengawali obrolan. Tidak ada apa apa mas, mas ko sendirian di sini, aku temenin boleh ya..?. Dalam hatiku, sukur terus terucap, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, terimakasihku. Mengapa ini terjadi, sungguh senangnya hatiku. Sapa dia kembali membangunkan lamunanku, aku temenin boleh tidak mas?, oh iya silahkan Neswah, silahkan duduk. Sapa dia kembali, mas ko tidak berenang. Saya menjawab, barusan sudah ko, pengen istirahat bentar. Agak sedikit gombal, aku teruskan percakpan itu, rasnya capek berenang mengarungi lautan cinta, cinta itu begitu besar, tapi aku Cuma butuh secuil, satu dari sekian banyaknya cinta itu, satu untuk selamanya. Neswah tiba tiba nyeplos, mas ko jadi puitis gini. Oh tidak ko, Cuma sesekali saja. Neswah kembali berbicara, rasa rasanya mas, kita baru kemaren kenal ko kayaknya sudah akrab banget ya mas. Dalam hatiku berkata, ko sama yang aku rasa. Apa ini bertanda, kesempatan mungkinkah datang untuk kedua kalinya. Mas, sapa Neswah yang mengagetkanku dari sejenak lamunan. Iya Neswah, ko rasanya sudah cocok saja, eh bukan maksudnya akrab banget gitu. Tiba tiba, di tengah obrolan, aku dan Neswah terdiam seribu bahasa, gugup entah apalah. Akupun berkeringat dingin, apa ini memang saatnya aku ungkapan perasaaan, yang semakin terbuka ini. Dengan bismillah, niat semoga kalau itu jodoh, dengan kuasMu dekatkanlah, bilamana itu bukan jodohku, jadilkanlah ia motivasi bagiku. Sambil menghela nafas panjang, untuk mengahiri kebisuan itu. Ahirnya, mulai ku ungkapkan perasaan itu, dengan sedikit bijak. Aku Cuma ingin sedikit bicara Neswah, apa kita memang jodoh, klo itu iya, aku ingin ungkapkan perasaan sayang lebih dari cinta ini padamu Neswah. Bolehkah aku memiliki cinta dan sayangmu, tentunya sebagi ikatan dua sedjoli. Kemudian.Neswah pun tidak ragu menjawab, aku juga merasakan hal yang sama mas, dari awal kita ngobrol jauh, rasanya sudah ada kecocokan di antara kita. Aku izinkan mas memiliki rasa sayangku, mulai sekarng aku terima cinta mas. Seketika itu, kata kata manpun rasnya kurang pas untuk mengungkapkan, betapa bahagianya aku. Semoga, dua janur kuning itu terikat sebagai sebuah tanda kita nanti, dan semoga cintaku ini bukan gersang seperti padang pasir ini, akan tetapi semoga cintaku ini air di tengah luasnya padng pasir yang gersang.( kebetulan pulau itu berbentangnya padang pasir, lain dari pulau pulau di Indonesia yang kaya pepohonan nan hijau). Ahirnya terajutlah dua cinta menjadi satu sampai di ahir nanti, semoga.
( cerita, cinta ini hannya fiktif belaka )







Oleh: mustaqim