Jumat, 20 Agustus 2010

Berlian di Ujung Menara

Sore tidak terlalu bersahabat. Bertarung dengan gerimis dan desakan para karyawan yang antri menunggu bus sepulang kerja. Basah, becek, sempit. Itulah kata yang dapat mewakili suasana halte yang telah menjadi “sahabatku” semenjak beberapa bulan lalu.
Namaku Aulia Putri, lebih sering di panggil Aya. Umurku 24 tahun. 6 bulan yang lalu aku resmi menjadi karyawati salah satu bank swasta di kota Jakarta, Jakarta Selatan tepatnya. Menempuh perjalanan 20 menti setiap pagi dan sore menjadi rutinitasku setiap hari. Utntung saja rumahku tidak terlalu jauh dari tempat aku bekerja. 15 menit berlalu semenjak aku sampai di halte ini, 3 bus juga sudah berlalu. Penuh dan berdesakan. Tak sanggup rasanya jika aku harus memaksakan diri masuk ke dalam bus yang penuh sesak itu. Tunggu yang berikutnya saja, bathinku.
5 menit..10 menit..,dan akhirnya aku memnemukan bus yang lumayan kosong. Dan aku pun naik. Mataku mulai bertamasya mencari bangku kosong. Hmmm….ada 2. Tak kupedulikan siapa yang mengisi bangku di sebelah, langsung ku daratkan tubuhku disebelahnya sambil menarik napas panjang. Ahh…akhirnya pulang juga.
Keesokan paginya, selama perjalanan menuju kantor aku duduk di sebelah lelaki yang kuperkirakan umurnya berkisar antara 26 atau 27 tahun. Rapi,bersih dan saleh. Kata terakhir itu (saleh) ku simpulkan karena selama perjalanan dia tidak berkata satu patah kata pun padaku. Bibirnya asyik komat kamit membaca 1 buku dan ternyata bukan sembarang buku. Itu lebih seperti kitab / buku agama tentang Al Quran, Sunnah dan Hadist. Maka kusimpulkan dia saleh. Kesimpulan yang terlalu cepat, actually…
Singkat cerita, sorepun tiba. Hal yang sama terulang. Hujan, basah dan berdesakan di halte demi menunggu bus untuk pulang. Pada dasarnya aku suka hujan tapi tidak seperti ini, ketika harus berdesakan di tempat umum. Aku suka melihat hujan dari jendela kamarku. Aku juga suka mencium aroma rerumputan setelah hujan. Aku suka hujan.
Dan ketika bus tujuanku datang, kulangkahkan kaki menuju pintu masuk. Ya…,ada 2 bangku kosong lagi. Kuputuskan memilih yang terdekat dariku saat ini. Kutarik napas panjang setelah berhasil duduk dengan baik. Kudengar suara tawa halus dari sosok yang duduk di sebelahku. Spontan ku lirik dia dan ternyata…..


“Hi….”, sapanya ramah
“Hi juga.. Kok ketawa??”, tanyaku
“Enggak..,dari kemarin setiap naik bus, mbak langsung tarik napas panjang kaya tadi itu lho. Hehehe..”
“Sejak kemarin..??”, tanyaku bingung
“Eh..,iya. Ga ada maksud apa-apa kok cuma kemarin sore kita juga naik bus yang sama dan mbak juga duduk di sebelah saya”, jelasnya penuh hati-hati
“Oh..,”, jawabku santai

Mungkin aku memang tidak terlalu memperhatikan siapa yang duduk di sebelahku ketika sore hari sepulang kantor. Karena yang ada di dalam benakku hanya rumah dan kasur yang empuk.

“Tadi pagi kita juga satu bus”, ucapku setelah beberapa lama diam-diaman dengan pria itu
“oh..,iya.”, katanya singkat

Ya..,dia pria yang tadi pagi duduk di sebelahku dengan kitab Sunnah dan Hadist di tangannya.

“Mas Kiay ya..??”, tanyaku polos dan di sambut senyum dan tawa garing dari pria itu
“Kok ketawa? Pertanyaannya salah ya?”, dahiku mulai mengkerut
“Ah..eh..enggak kok mbak. Cuma aneh aja di sangka Kiay”
“Habisnya tadi pagi mas nya baca kitab Sunnah dan Hadist gitu. Kupikir Kiay”

Dan ia pun kembali tersenyum.

“Saya mengajar tafsir Al Quran di salah satu Universitas Islam. Saya bukan Kiay. Saya hanya dosen biasa”, jawabnya santun

Mengajar tafsir?? Universitas Islam?? Berarti dugaanku benar, setidaknya dia saleh jika diselidiki dari profesinya. Kesimpulan yang sangat umum dan terlalu cepat.

“Mbak sendiri??”
“Haa..eh..”, aku terlalu lama berpikir hingga sedikit ling-lung dengan pertanyaannya
“Oh..,aku karyawati di salah satu Bank swasta”
“Oh..,iyaa..”,jawabnya dengan senyum

Obrolan itu terhenti, ketika keneknya meneriaki salah satu nama tempat . Tempat dimana saatnya aku turun. Dan akupun mulai bersiap-siap untuk turun. Memperbaiki gandengan tas tanganku dan posisi dudukku.


“Turun di sini ya mbak?”, Tanya suara di sebelahku
“Eh..,iya. Duluan ya mas ya”, kataku
“Oh..iya..”, jawabnya ramah

Setelah bus itu berlalu dan hilang dari pandangan, baru aku sadar kalau aku dan pria yang kuanggap saleh itu tidak sempat bertanya nama. Dan hingga detik ini, namanya masih “Pria Saleh” 

“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam”, jawab suara dari dalam rumah. Itu suara ibuku.

Oya, di rumah ini, aku tinggal bersama ibu dan seorang perempuan yang membantu ibu beres-beres rumah. Semenjak bekerja, aku merasa tidak punya cukup waktu lagi untuk membantu ibu membersihkan rumah. Walaupun bagi ibu itu tidak masalah tapi bagiku itu masalah. Aku tidak bisa melihat ibu bekerja sendiri. Sudah cukup rasanya ibu harus bekerja berat. Sudah saatnya ibu sedikit menikmati masa-masa pensiunnya. Karena itulah kuputuskan mencarikan seseorang yang bisa menemani ibu di saat aku bekerja dan membantu ibu membersihkan rumah. Dan ayahku.. Ayah telah damai di sisi-Nya semenjak beberapa tahun lalu. Sedangkan saudara-saudaraku,semuanya di luar kota. Kakak laki-lakiku seorang dokter, dia bertugas di Sumatera. Kakak perempuanku ikut suaminya ke Bandung. Ia buka usaha restoran dan butik. Dan aku…,si bungsu. Tidak bisa jauh dari ibu hingga akhirnya memilih tetap tinggal bersama ibu dan bekerja di kota ini. Well, home sweet home…

“Tumben cepat pulangnya Nak? Kan hujan, biasanya kalo hujan agak telat”, Tanya ibu
“Iya Bu..,kebetulan dapet bus nya cepet”, jawabku
“Ibu dah makan??”
“Udah,barusan. Ibu pikir kamu pulangnya lama karena hujan ya udah ibu makan duluan”, sahut ibu
“Mandi dulu gih,trus langsung makan”
“Oke bu..” Dan aku pun langsung beranjak

Hari ini sabtu. Saatnya liburan dan bersenang-senang. Menikmati weekend bersama ibu adalah rutinitas ku setiap akhir pekan.

“Kita ke Shinning Shop di ujung kota yuk. Lampu ruang baca tadi malam udah ga mau hidup lagi. Ibu mau beli yang baru”, ajak ibu
“Boleh. Jam berapa Bu?”
“Selesai kamu sarapan, lebih cepat lebih baik. Ntar kalo dah siang, panas”
“Baiklah”,

Ku habiskan sarapanku segera dan bebrap saat kemudian aku dan ibu telah meluncur ke Shinning Shop.

Disaat ibu sedang asyik memilih lampu dan bernegosiasi dengan pelayanannya, aku pun asyik memperhatikan dan mengelilingi Shinning Shop yang isinya beraneka ragam jenis  lampu. Dari yang biasa sampai yang wah. Dari yang harganya belasan / puluhan ribu  sampai yang wow. Hingga akhirnya mataku tertuju pada lampu tidur yang cantik menurutku apalagi dengan warna favoritku, ungu. Dan spontan aku bertanya pada pria yang berdiri tidak jauh dariku dan kupikir dia salah satu karyawannya. Sambil sedikit meraba lengannya…….

“Mas..,kalo yang itu harganya berapa ya?
Dan mas situ pun menjawab…
“Bentar ya mbak, saya Tanya karyawannya dulu”

Degh!! Spontan aku kaget dan malu. Dan yang lebih memalukan lagi, kurasa aku kenal dengan pria ini. Yap!! Dia “Pria Saleh” yang berkali-kali tanpa sengaja sering naik bus yang sama denganku. Yaa…,pria yang kupikir Kiay itu. Ya ampuunn..,bagaimana mungkin aku bisa berpikir kalau dia karyawan toko ini. Dengan setelan T-Shirt dan celana gunungnya, dia sama sekali tidak terlihat seperti karyawan toko. Inti dari penjelasan ku ini adalah “Dia Lumayan Tampan Hari Ini” 

“Duh..,maaf ya mas. Ga sengaja. Soalnya gara-gara lampu itu sih, bagus banget jadi aku di bikin ga sadar. Maaf ya…” hmmmm…..,alasan yang sangat di buat-buat.

Dan pria itu hanya memberikan senyum ramahnya padaku. Setidaknya itu sebagai tanda maafku diterima. Sebagai perwakilan dari kata “Gapapa kok mbak”

“Aya..,kamu lagi apa?”, untungnya panggilan ibu menyelamatkan aku dari suasana yang tidak mengenakkan ini. Aku masih malu dan merasa bersalah.
“Ini Bu..,lagi liat-liat lampu tidur. Ada yang bagus sebelah sini”, jawabku

Ibu beranjak mendekat. Dan “Pria Saleh” itu masih berdiri di depanku.

“Yang mana??”, Tanya ibu
“Yang itu Bu”, jawabku sambil menunjuk ke arah lampu tidur cantik itu

“Hmmm…mas, yang itu harganya berapa?” tiba-tiba “Pria Saleh “itu bertanya pada seorang karyawan yang tidak jauh berdiri dari kami.
“Yang mana mas?”, Tanya karyawan
“Yang itu. Yang warna ungu itu”, jawabnya

Degh!! Aku langsung tersentak. Merasa semakin malu dan tidak enak. Ternyata dia benar-benar menanyakan harganya pada karyawan toko.

“Ga jadi di ambil lampunya?”, Tanya pria itu padaku
“Ehh..,iyaa.. jadi”, jawabku

Dan ibu mulai bingung dan bertanya-tanya siapa pria yang dari tadi berada di antara kami.
Membaca bahasa tubuh ibu sepertinya pria itu tahu. Dan akhirnya…….

“Salam Bu. Nama saya Nabil, Muhammad Nabil Wahyu Alam”, ucap pria itu memperkenalkan dirinya pada ibuku.
“Oh..,iya nak. Temennya Aya yaa..? aya kok ga pernah cerita. Gimana toh nak ibu ga di kasi tau kalo kamu punya temen”, jawab ibu yang seolah menyalahkan aku.

Bagaimana aku harus mengenalkannya? Namanya saja aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu apa-apa selain dia adalah Dosen di salah satu Universitas Islam.

“Kamu tinggal  dimana nak?”, Tanya ibu pada “Pria Saleh” itu. Eh..,bukan! Nabil! Namanya Nabil.
“Di jalan Antasari, Bu”, jawabnya lembut
“Oh.., deket  toh  nak. Kok ga pernah main ke rumah?”, Tanya ibu sok akrab…

Dan di jawab hanya dengan sebuah senyuman manis. Ya..,setelah aku perhatikan, “Pria Saleh” yang ternyata bernama Nabil itu sering kali menjawab pertanyaan dengan senyum manisnya. Dan obrolan tak hanya sampai di sana. Siang ini kami (aku, ibu dan Nabil) menikmati makan siang bersama. Aku pun heran kenapa ibu bisa begitu cepat dekat dengannya. Tidak seperti biasanya jika aku mengenalkan teman priaku pada ibu. Reaksi ibu hanya biasa-biasa saja. Sewajarnya saja. Tidak seperti kali ini. Aku lebih banyak diam dan mendengarkan obrolan ibu dan Nabil. Bukan apa-apa tapi karena aku memang tidak tahu harus bertanya apa pada pria yang sesungguhnya masih asing itu.

“Oh..,jadi nak Nabil ini lulusan Cairo, Mesir??”, Tanya ibu terkagum-kagum

Haa..??? Mesir??? Al-Azhar maksudnya??
Mataku terbelalak mendengar kalimat ibu barusan. Bkannya apa-apa tapi yang ada di dalam otakku, jika lulusan Cairo, yang pasti hidup di pesantren mengajar para santri. Sehari-hari menggunakan pakaian muslim kemanapun ia pergi. Yaa..,memang pandangan yang sangat kolot dan terbelakang.Dan melihat sosok pria yang sekarang ada di depanku, sepertinya itu mulai berubah. “Islam Itu Modern” itulah kata yang tepat! 
Nabil dan ibu terus bercerita tanpa hentinya, aku mulai bosan. Mereka bercerita tentang budaya dan kebiasaan orang di negara yang terletak di utara benua Afika itu. Mesir memang termasuk modern jika di bandingkan dengan negara-negara Islam lainnya. Mereka lebih global dan terbuka. Itulah singkat cerita yang kutangkap dari obrolan ibu dan Nabil.
Nabil terlahir dari keluarga yang cukup kental dengan unsur Islam. Ia anak tunggal. Seperti orang tua lainnya, orang tua Nabil pun berharap banyak padanya. Sekarang ia bekerja sebagai dosen di salah satu Universtitas Islam. Dan semenjak kejadian itu, ibu sering kali menyebut nama Nabil. Semangat ibu bergejolak seperti jaman perang saat bercerita tentang pria itu. Aaahh….,pria itu benar-benar telah meracuni otak ibu.
Dan semenjak hari itu, disengaja atau tidak, kami selalu bertemu sekalipun hanya 1x atau 2x 20 menit setiap hari kerja. Kami mulai terlibat obrolan-obrolan ringan, sering bertukar pendapat bahkan mengalami perdebatan-perdebatan kecil dalam memandang satu masalah. Dan suatu hari, di pagi buta dalam perjalanan ke kantor, aku berikan satu pertanyaan yang setiap orang selalu memberikan pendapat dan pandangan yang berbeda. Pertanyaannya “Kamu setuju Poligami??”
Dan ia memulai jawabannya dengan seulas senyum..

“Jangan senyum..,di jawab”, kataku
“Hmmm…tergantung”
“Tergantung..???”, ku Tanya balik jawabannya
“Iya tergantung memandangnnya dari sisi mana”, imbuhnya
“Maksudnya??”, aku semakin penasaran

Dan lagi-lagi dia tersenyum. Aaarrrggghh…pria ini..!! Bathinku.

“Tergantung memandangnya secara subjektif atau objektif”
“Aku tidak mengerti”, jawabku
“Subjektif, berarti kamu berpikir menggunakan hati. Semua orang pasti menginginkan cinta terbaik di dalam hidupnya. Dan rasa ini mendorong kita untuk memiliki seseorang yang benar-benar dan hanya kita cinta. Kata lainnya, kita hanya akan setia pada 1 pria/ wanita. Tak ada yang lain. Hanya dia. Berarti tidak ada poligami di sana.”
“Lalu objektif?”
“Objektif , kita berpikir secara rasional, logis dan bijaksana terhadap masalah yang ada. Kuberikan satu contoh. Ada seseorang yang telah cukup umur dan dewasa. Melihat fenomena yang ada saat ini, bukan menjadi rahasia lagi bahwa populasi wanita semakin meningkat cepat di banding pria..”
“Lalu hubungannya??”, potongku

Dan lagi-lagi dia "tersenyum" sebelum menyelesaikan jawabannya.

“Hubungannya, jika melihat populasi yang seperti itu, 1 pria tentu akan mendapatkan 1 wanita. Tapi 1 wanita tidak akan mungkin mendapatkan 1 pria. Akan ada banyak wanita yang tidak mendapatkan pasangan karena jumlah mereka melebihi jumlah para pria. Jadi, dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti zina dan hubungan sesame  jenis, maka……”
“Lebih baik poligami??? Begitu??”
“Ini hanya….”
“Ahh….sudahlah”, aku mulai kesal. Jawaban apa itu..!! Bathinku.
“Mbak….”, dia berusaha untuk menjelaskan lagi
“Sudah cukup jawabannya. Intinya kamu setuju poligami. Laki-laki dimana-mana sama saja”, jawabku sekenanya
“Tidak begitu.. saya bias jelaskan lagi”, katanya
“Sudah jelas mas. Makasih jawabannya”, potongku

Dia hanya tersenyum. Dan tak lama kemudian aku turun dari bus. Aku bahkan tidak mengucapkan apa-apa sebelum turun. Aku masih kesal dengan jawabannya. Ya itulah aku. Aku tidak suka dengan poligami. Aku tahu poligami hal yang dibenarkan dalam Islam selama itu adil. Tetapi apapun alasannya, tetap tidak dapat diterima oleh akal sehatku.
Sorepun datang. Waktunya pulang kerja. Aku tidak mau satu bus lagi dengan si Nabil Nabil itu. Aku masih kesal dengannya. Ya..karena jawaban poligaminya itu. Sesampai di halte ku coba menembus keramaian, berusaha naik bus secepatnya. Karena jika ku tunggu bus yang kosong, bisa-bisa aku akan satu bus lagi dengan pria itu. Tapp!! Akhirnya aku dapat meraih pintu bus. Kucari bangku yang kosong. Dan…ada! Yess..tidak berdiri, sorak hatiku. Dan ketika aku mendekat… Oh..,tidak!! Yaa…,siapa lagi jika bukan NABIL! Kenapa ada dia lagi?? Tanyaku dalam hati. Tanpa menghiraukannya aku langsung duduk. Sekilas, kulihat ada senyum yang terukir di bibir makhluk yang menyebalkan di sebelahku itu. Aku tahu dia pasti mentertawakanku atas kejadian tadi pagi.
Bus mulai berjalan. Hanya berselang 5 menit, Nabil berdiri. Aku melihat kerahnya, dia berkata sambil berbisik…..

“Kamu pindah ke sebelah sini. Masuklah ke dalam, biar aku yang di tempatmu. Ada copet di depan sana”

Degh!! Aku kaget. Copet?? Oh..,tidak. Aku takut copet. Bukan takut jika uangku hilang, tapi takut jika mereka melakukan kekerasan. Seperti anak kecil yang diberi dan dirayu dengan coklat dan permen, aku menurut saja dengan perkataan Nabil. Aku bergeser, dia di pinggir. Dia tidak berkata apa-apa selama perjalanan, begitu juga aku. Sebenarnya aku ingin memecah keheningan di antara kami, tapi tidak tahu harus berkata apa. Ya sudah,20 menit diam tanpa kata. Halte berikutnya aku turun.
Ini dia aku harus turun disini. Nabil berdiri memberiku jalan, masih tanpa kata-kata. Aku mulai berjalan mendekati pintu keluar.dan bus pun berlalu. Untunglah aku segera turun, aku takut copet, bathinku.

“Rumahmu dimana?”, tiba-tiba ada suara di belakangku. KAGGEEETT!!!

Aku membalikkan tubuhku spontan dengan cepat. Dan ketika kulihat wajah dari orang yang suaranya mengagetkan aku tadi…. AKU JAUH LEBIH KAGET LAGI!!

“Kamu..??!!”, aku ternganga

Dia senyum. Yaaa…,siapa lagi yang selalu tersenyum jika bukan NABIL!!

“Kamu ngapain disini?? Bukannya seharusnya turun di halte depan??”, tanyaku masih dengan ekspresi kaget.

Lagi-lagi dia tersenyum. Ya Tuhan..,senyum lagi senyum lagi. Aku sengaja turun di sini. Takut kamu kenapa-napa. Gara-gara copet tadi, aku sedikit agak khawatir jika kamu pulang sendiri malam-malam gini”

“Biasanya juga aku pulang sendiri”, jawabku sok hebat
“Rumah kamu dimana?? Cepat bilang, biar ku antar”, dia agak memaksa
“Masuk gang sana”, ku tunjuk satu gang
“Mari..”, katanya

Aku diam saja tidak bergerak dari tempatku. Dia mengulang….

“Mbak..,mari saya antar. Saya tidak ada maksud apa-apa. Cuma khawatir saja jika wanita harus jalan sendiri malam-malam begini. Setelah mbak sampai di depan rumah, saya akan langsung pulang ke rumah saya”, jawabnya memberi penjelasan.

Akhirnya aku mulai berjalan. Selama menuju ke rumah, aku berjalan di depan, dia mengikut di belakang. Ketika aku merasa aneh dengan posisi jalan yang seperti itu, aku pun berbalik.

“Kok kita…..”
“Jalan saja terus. Saya ikuti dari belakang”, potongnya

Dan aku kembali berjalan sambil mengutuk dalam hati. Dasar pria aneh!!
Seperti yang dia katakan sebelumnya, sesampai aku di depan rumah, dia langsung pulang. Aku bahkan tidak sempat bertanya atau berkata apa-apa. Pria itu kurasa sakit jiwa!!
Keesokan paginya, aku tidak menemukan pria aneh, maksudku Nabil, di bus yang aku tumpangi. Begitu juga sorenya. Kupikir mungkin dia sedikit terlambat atau aku terlalu cepat sehingga kami tidak ditakdirkan bertemu dan menaiki bus yang sama.
Besok, besok satu lagi, besok-besoknya lagi dan lagi, nyaris hampir satu minggu ini aku tidak pernah lagi bertemu dengan Nabil di atas bus. Awalnya hanya berpikir biasa-biasa saja, sekarang aku mulai bertanya-tanya. Kemana dia? Apa dia baik-baik saja? Aku mulai khawatir. Tidak…tidak…,ini bukan sekedar khawatir. Yaa..,bukan!! Ini lebih dari itu. Ini adalah karena aku (kurasa) rindu padanya. APA???
Weekend datang lagi, saatnya menikmati hidup. Tiba-tiba aku teringat pria aneh yang tidak kuketahui kabarnya 1 minggu ini. Kemana dia? Aku ingat ketika dia berbisik padaku di dalam bus.. “Kamu pindah ke sebelah sini. Masuklah ke dalam, biar aku yang di tempatmu. Ada copet di depan sana”
Kata itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku merasakan hal yang berbeda ketika dia menyuruhku untuk pindah. Entahlah apa namanya, tapi aku merasa dia bagaikan “Malaikat Pelindung” yang diturunkan Tuhan untukku malam itu padaku. Dan sekarang, tiba-tiba dia menghilang. Kemana dia??

Sabtu..Minggu..,weekend yang seperti itu saja. Tidak banyak yang berbeda. Dan akhirnya..,It’s Monday..,already!! Oohh…! Bus..,aku besiap untuk naik. Mencari tempat dan degh!! Jantungku berdetak lebih cepat dari frekuensi yang seharusnya karena di ujung sana ada seulas senyum mengambang menyapaku. NABIL..!! Aku pun duduk..

“Kamu..”, serentak tiba-tiba kami mencoba membuka pembicaran dan gelak tawapun lepas.
“Ya sudah kamu dulu”, katanya
“Oh..ya. minggu yang lalu aku jarang melihatmu. Cuti ya..??”, tanyaku langsung
“Bukan cuti, hanya izin. Memang mendadak. Bapakku sakit. Ibu menelfon dan menyuruh pulang. Aku langsung pulang karena takut bapak kenapa-napa”, jawabnya
“oh..begitu”, kataku tanda paham
“Oh ya..tadi mau Tanya apa??”, tanyaku balik padanya
“Hhaa..apa yaa? Duh lupa aku mbak hehe..”, dia menggaruk-garuk kepalanya. LUCU!!

Dan akupun tertawa.
Besok, lusa dan hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sesekali dia menjelaskan padaku tentang hukum-hukum Islam, sejarah Islam, cerita Nabi dan semua yang berbau Islam lainnya. Jujur, ilmu dan pandangaku semakin terbuka tentang Islam. Aku muslim semejak lahir, namun keluargaku bukanlah keluarga dimana tradisi dan ajaran Islam kental menghiasi hari-hari kami. Aku dan keluarga hanya menjalankan yang wajib dan yang umum saja seperti shalat 5 waktu, puasa, zakat kewajiban-kewajiban yang umum dilakukan oleh muslim lainnya. Aku memang tidak terlalu mendalami agamaku. Aku merasa terlalu miskin akan ilmu semenjak bertemu Nabil. Dia seakan tahu segalanya. Dia tahu Islam, jika aku boleh bilang, semua tentang Islam. Dan terlebih lagi, dia tidak menutup hati, pikiran dan pandangannya terhadap dunia luar. Baginya selama itu baik dan tidak bertentangan dengan agama, tak ada salahnya ditiru. Pantas saja jika wawasannya luas, terbuka, global dan yang pasti, modern. Ya.., dia modern. Sungguh makhluk Tuhan yang beruntung, ujarku. Dan teramat sangat beruntung lagi, wanita yang bisa menjadi pendampingnya kelak. Ia begitu cerdas, rendah hati, ramah, sopan, entahlah kata apa lagi yang bisa mewakili keindahannya. Ia bagai Berlian di Atas Menara. Ketika malam, kilaunya begitu indah. Terlihat dari penjuru manapun. Dan ketika siang, ia akan tetap berkilau karena sinar mentari menjadikannya bercahaya. Indah! Itulah dia!
Tidak terasa telah berbula-bulan aku mengenalnya. Hampir setiap hari kami bertemu. Bercerita, tertawa, saling belajar dan sesekali aku kesal padanya. Seperti hal-hal sebelumnya, sifatku yang keras kepala tidak mau menerima pendapatnya yang terbuka. Ya itulah aku! Dan itulah dia! Sampai suatu ketika, di pagi hari dalam perjananan.

“Kok dari tadi diam aja mas?”, tanyaku
“Ah..,ga kok mbak. Mbaknya aja yang ga ngomong makanya diam”, jawabnya

Biasanya kan kalau aku diam, kamu yang negur duluan, bathinku. Tapi ya sudahlah. Mungkin dia memang ingin diam. Hingga 5 menit sebelum aku turun, dia berkata….

“Minggu depan saya menikah mbak”

Degh!! Aku bisa mendengar suara jantungku yang seolah begitu cepat berdetak, terasa sesak. Bulu kudukku  merinding. Darahku seolah berhenti mengalir. Aku tidak merasakan apa-apa! Dan bus berhenti, aku turun, mungkin dalam keadaan setengah sadar. Tak ada kata-kata lain terucap.
Semenjak hari itu, aku tidak pernah lagi duduk di sebelahnya selamna di dalam bus. Aku berusaha mencari mencari tempat kosong yang tidak berdekatan dengannya. Sebisa mungkin kujauhi dia. Diapun tidak berkata dan berusaha bertanya atau menyapaku lagi. Kami seperti tidak kenal satu sama sekali. Begitu asing.
Seminggu kemudian, aku kembali kehilangan jejaknya. Dia tidak pernah tampak lagi. Mungkin dia benar-benar telah menikah. Dan mungkin sekarang sedang menikmati masa-masa bahagianya. Aku tidak mau pikirkan apa-apa. Tunggu.. kenapa aku harus berkata seperti ini. Memangnya dia siapa. Dia hanya orang asing yang selalu berpapasan denganku di dalam bus. Itu saja! Dia bukan siapa-siapa. Lalu, kenapa aku begini. Seolah-olah dia berpengaruh terhadap hidupku. Ayolah Aya, dia bukan siap-siapa. Aku berusaha berpikir jernih namun setiap pria yang berada di dalam bus, terlihat seperti Nabil di mataku. Pria aneh itu benar-benar membuatku sakit jiwa! Aarrrrgghh….
Sore ini sangat melelahkan. Terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Teramat sangat lelah. Sesampai di rumah, aku langsung berbaring di kamar. Merebahkan tubuh dan membiarkan tubuhku tenggelam di atas empuknya kasur. Tiba-tiba…

“Aya…”, sapa ibu di depan pintu kamar dan mendekat ke arahku
“Iya Bu..?”, jawabku sambil membuka mata dan ,menatap ke arah ibu
“Ini..”, sambil menyerahkan amplop, terlihat seperti amplop surat
“Ini apa?”, tanyaku
“Tadi  ibu nemu di kotak surat di depan rumah. Sepertinya untuk kamu”, jawab ibu

Aku diam saja. Mengambil surat itu dari tangan ibu. Didepannya ada tulisan “Untuk : Aulia Putri”. Itu aja. Tidak ada nama pengirim, alamat, tidak ada apa-apa, hanya namaku saja. Ibu beranjak keluar setelah sesaat merapikan meja kamarku yang sedikit agak berantakan. Aku penasaran dengan isi surat itu. Akupun mulai membuka dan begini isinya…

Ayahku sakit. Dia berkali-kali berkata ingin melihat aku segera menikah. Dan berkali-kali kukatakan aku belum memiliki seseorang yang bisa ku nikahi saat ini juga. Ibu memohon padaku untuk berusaha mencari seseorang yang kurasa cocok untuk menjadi pendampingku. Malah ibu menawarkan apa perlu ibu yang mencarikan untukku. Aku hanya biasa katakan, aku akan berusaha tetapi jika ibu menemukan seseorang yang baik menurut ibu untukku, aku percaya pilihan ibu. Dan suatu malam handphone ku berdering, ku lihat dari ibu, ibu bilang…….
“Ibu telah menemukan seseorang untukmu nak. Dia lulusan Mesir seperti kamu. Hapal Al Quran, santun, insyaAllah shalehah. Jadi bagaimana? Apa kamu sudah menemukan pilihanmu? Jika belum, pulanglah, ibu akan kenalkan gadis itu padamu”
Untuk sesaat aku tertegun, terpaku, berpikir. Aku hanya tidak ingin menyakiti hati ibu dan bapak. Aku hanya tidak ingin membuat bapak semakin sakit. Aku ingin bapak sembuh. Dan jika melihat aku menikah akan membuat bapak merasa lebih baik, maka sudah sepatutnya dan kewajibankulah berbakti kepada mereka yang kucintai”

                        Muhammad Nabil Wahyu Alam


Seketika selesai membaca surat itu, kurasakan bulir-bulir bening turun dan membasahi pipiku. Ku tutup mataku rapat-rapat. Kupeluk gulingku erat-erat. Ku coba untuk hentikan tangis ini. Tapi aku tak mampu. Aku tidak mampu bohongi hatiku bahwa ia benar-benar telah kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang telah mencuri perhatiannya. Ya..,aku tidak bisa bohongi hatiku lagi bahwa ada ruang untuk Nabil di dalamnya. Ruang yang kini kosong karena Nabil memilih untuk tidak masuk ke ruangan itu. Nabil pergi, pergi ke ruang hati yang lain. Nabil benar-benar telah pergi! Hatiku hancur!


Xxxxxxxxxxx


Untuk beberapa hari aku terlihat seperti mayat hidup. Pergi ke kantor dengan pikiran kosong. Pandangan buram. Aku benar-benar di luar kontrolku sendiri. Beberapa hari kemudian, sepulang kerja, saat turun dari bus, aku melangkah dengan gontai. Lelah dan sedih bercampur jadi satu. Kulangkahkan kaki, pandangan ku seolah-olah kabur, buram.
Aku melihat sosok tubuh berdiri di hadapanku. Aku tak pedulikan. Terus melangkah hingga mendekat, semakin dekat hingga aku dapat melihat wajah dari sosok tersebut. NABIL?? Kupejamkan mataku dan kubuka lagi. Sosok itu masih ada. Ya..,itu Nabil. Oh..Tuhan, aku benar-benar telah sakit jiwa! Bahkan halusinasiku mulai membuatku semakin tidak waras. Sudahlah Aya, Nabil tidak akan pernah lagi mengunjungimu. Dia telah punya hidupnya sendiri. Aku terus melangkah menjauh dari sosok itu. Langkah ini benar-benar terasa berat dan tiba-tiba.

“Aya..”, suara itu berasal dari sosok yang kulihat seperti Nabil

Tak kuhiraukan karena ku tahu halusianasiku semakin parah hingga kini aku bahkan mendengar suaranya.

“Aya..,ini aku Nabil”. Tidak Aya..,jangan dengarkan. Bathinku berusaha menyadarkan jiwaku yang benar-benar telah di rasuki oleh bayang-bayang Nabil.

Hanya butuh beberapa hari, hidupku mulai normal walaupun belum sepenuhnya bisa menghilangkan bayang-bayang Nabil. Bus tujuanku lewat, aku melangkah menaiki bus dan langsung duduk di tempat yang kosong. Di tengah perjalanan..

“Ini buat kamu Aya..”.

Seorang pria yang duduk di sampingku menyodorkan kertas yang telah dilipat menjadi lipatan kecil. Tersentak ku tatap pemilik wajah yang duduk di sampingku itu. Ya Tuhan! Dengan refleksnya aku berdiri dan berusaha menjauh tetapi belum sempat aku bergerak….

“Tunggu!”.

Pria itu menahanku dengan mencengkeram pergelangan tanganku dan seketika itu juga dia sadar dengan apa yang dia lakukan dan melepaskan pegangan itu. Sambil menunduk dia berkata……

“Maaf”

Aku kembali duduk, mencoba tenang dan mempercayai bahwa yang duduk di sebelahku kali ini benar-benar adalah NABIL!! Ini bukan khayalan lagi. Dan kami hanya diam selama perjalanan. Hingga sebelum aku melangkah untuk turun dari bus, dia kembali berkata.

“Ini untuk kamu Aya. Maaf, sekali lagi maaf tapi tolong di baca”, dia memberikan lipatan kertas yang tadi. Kuambil lipatan itu dengan sedikit rasa enggan. Lalu aku pun berlalu.

Lipatan kertas itu ku buka…

Kenapa Tuhan menciptakan Hawa untuk Adam. Karena Adam tak mampu hidup sendiri. Dia buth Hawa.
Kenapa malam di hiasi Tuhan dengan bintang-bintang. Karen atanpa bintang-bintang, malam hanya lukisan gelap yang buram.
Dan kenapa Tuhan menciptakan Aulia Putri. Karena ternyata Muhammad Nabil Wahyu Alam tak mampu hidup tanpa dia.

*P/S
Aku membatalkan dan menolak tawaran ibu untuk menikahi gadis pilihannya. Aku tahu ibu pasti kecewa terlebih lagi Bapak. Tapi aku melakukannya karena aku merasa, ada wanita yang lebih pantas dan insyaAllah dapat membuat aku, ibu dan bapak bahagia. Wanita itu adalah kamu Aya.
                                                      M. Nabil

By: HF