Kamis, 15 April 2010

"cerita konyol" Penyemangat Terselubung

Waktu menunjukkan 08.00 clt, turun dari arah saqoh sutuh lantai 5, tmpat ku tinggal di tajamu’ awwal yang tepencil dari komunitas masisir. Turun di awali dengan do’a bismillahi tawakaltu ‘alAllah, dalam hati berkata, huh semangat. Lambat ku tapaki anak tangga yg banyak, yah di niati sekalin olah raga, ahirnya sampai juga di bawah, tepat depan pintu gerbang imaroh, gerbang yang bergitu berat untuk di buka, greeek begitu bunyi pintu gerbang yang telah aku buka. Dan sinar hangat terik matahari menyinariku mengawali hari esok yang begitu terasa malas untuk memulai keseharianku. Keluar dari imaroh yang bewarna coklat berdiri kokoh, seklias kaya gupon ( rumah burung merpati ). 



Sinar terik matahari menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan di pagi musim gugur. Keluar asap dari mulutku, bagai chairil anwar yang sedang mengeluarkan asap rokok dari arah foto-foto yang terpajang. Tapak demi setapak kakiku melangkah melewati depan market jancuk, begitu sapaan akrab orang Indonesia pada si pemilik zezou market, melewati asoban ( tempat jual juz buah ), ‘ala tuul wa ba’din khus yimin ( jalan lurus, kemudian belok kiri ), lewat belakang imaroh aulad ‘aly. 

Dari arah samping, duk duk duk suara kaki yang sedang turun menapaki tangga imroh yang sedang aku lewati, ternyata dari arah tangga melela wanita mesir yang begitu anggun, dengan berbagai prabotnya, kulit wajahnya yang putih, matanya menyala lebar, hidung mancung, dan tinggi semampai, terlalu sempurna menurutku untuk aku gambarkan, seketika itu badan terasa berhenti sejenak dengan tiupan angin semilir, terkejut meliaht pemandangan indah, yang terasa bubadzir untuk di lewatkan. Yah, tak apalah walaupun sekejap terasa, paling tidak cukup memberikan semangat hati dan warna yang terang dalm malas langkahku, “huuuuh” tambah semangat pastinya. Angan masih terbawa alunan liak-liuknya menjadi teman gerak kakiku dalam perjalanan menuju mahatoh gama’ ( halte gama’ ). Sampailah di mahatoh, trotoar sebagai tempat duduk pilihanku menunggu tramco ( angkutan umum ) menjemput calon penumpang. 

Terkadang harus sabar menunggu datangnya tramco yang tidak jelas, tetapi terkadang juga tramco itu langusng ada lewat di jalan dekat mahatoh. Enggak sampai di situ saja kekesalan itu datang, kalu kebetulan dapet supir tramco yang suka iseng, entah itu perang mulut sama penumpang, atau nyupirnya yang ugal-ugalan, seakan tak beban membawa beberapa nyawa orang. 15 menit kemudian setelah jenuh menunggu tramco, “Syiiiiiiiiit” bunyi rem mobil ala mesir, datanglah tramco bewarna putih dan melahap semua penumpang. Penumpang sudah masuk semua, supir siap tancap gas, tramco yang melaju dari arah tajamu’ awwal menuju tujuan utama mu’af asyir ( terminal asyir ), dengan kecepatan penuh melaju kencang tak pandang apa itu rintangan, entah itu kerikil-kerikil tajam, lubang jalan. Perjalananku yang kunikmati menuju mauaf zahro, antara tajamu’ awaal tempat aku tinggal dengan mauaf asyir, tiba-tiba penumpang tramco yang duduk di sampingku, bicara; lausamah, ‘aiys dafa’…? ( permisi, mau bayar ? ), akupun menjawab, maisyi ( iya ), uang receh 1 LE aku keluarkan, uang receh dengan warna perak mengelilingi warna kuning keemasan di tengah, dengan gambar burung garuda sebagai lambang negara mesir. Begitu cepat perjalanannya menuju mau’af zahro yang memang si supir begitu cepat dan gesit melajuakan tramco putihnya, sampailah di mau’af langsung cari tempat duduk, untuk sekedar menyandarkan tubuhku ini. Duduk manis sambil menunggu bus 80 coret, jelek jelek kereta api, begitulah julukan yang ku berikan pada si 80 coret, bentuknya yang sudah tak layak pakai, warna yang sudah kusut, bunyi mesin brisiknya tak karuan, kelihatan sudah tua renta, tapi tetap saja menjadi buruan masisir dan calon penumpang untuk menuju darosah, atau untuk menuju tempat-tempat yang di lewati bus tua renta itu. Sudah 30 menit aku menunggu kedatangan bus itu juga tak kunjung datang, setelah 10 menit kemudian, dari arah kiriku jauh muncullah bus itu, calon penumpangpun siap siaga untuk siap-siap lari berebutan masuk dan tempat duduk. Sampailah bus 80 coret itu di mauaf seketika itu calon penumpang bergerumul berjubelan saling berdesak-desakan berebut.

Naiklah aku di bus, tempat duduk paling belakang pojok kanan jika menghadap ke depan jadi sasaran tempat dudukku. Setelah 5 menit dan bus pun penuh dengan penumpang, berangkatlah menuju darosah. Perjalanan yang begitu melelahkan karena cukup jauh perjalanannya untuk menuju darosah, belom penumpangnya yang super penuh sampai terkadang badan sulit untuk di gerakkan, dan suara bus tua yang bising. Ahirnya pandangan aku alihkan menatap kaca jedela bus, karena begitu banyak pemandangan elok dari arah luar kaca dengan balutan suci pashmina, cukup memberi semangat, dan itu menjadi bumbu-bumbu perjalanan yang awalnya terasa sepah menjadi lebih berasa manis menyegarkan…