Sabtu, 22 Desember 2012

Memperbaharui Iman Terkadang Tak sejalan Dengan Atribut Luar

Sumber : Gus Ghofur




Kota itu bagi banyak penghuninya sedang terlelap dalam

tidurnya. Bahkan bagi sebagian mereka seperti sedang mati. Nyala api dalam misykat penerang kota tinggal beberapa saja yang masih hidup. Tapi ada dua kelompok manusia yang justeru memiliki titik pandang yang berbeda: Baghdad larut malam sangat bergairah. Baghdad menggilar justru di malam hari.

Dua kelompok manusia ini hidup di dua tempat yang berbeda, dan melakukan aktivitas yang bukan saja tak sama, tapi lebih dari pada itu, bertentangan seratus delapan puluh derajat. Yang satu hidup di kedai-kedai malam yang sesak dengan nyanyian para biduanita dan ocehan para pemabuk. Sementara yang satunya lagi hidup dalam kedamaian rahmat dan lantunan nyanyian alam mendendangkan puji-pujian kepada Sang Pencipta.

Dua kelompok ini selalu ada, menghiasi persimpangan jalan kehidupan dunia, hinggi di era emas penegakan nilai-nilai keagamaan sekalipun.

Tidak lazim dua kelompok ini saling bertemu meski bersama-sama dalam gemerlapan dan bersama-sama pula dalam kesunyian. Karena yang satu dalam gemerlapan dunia, sementara yang lainnya dalam gemerlapan batin. Yang satu hidup dalam kesunyian batin dan yang lainnya hidup dalam kesunyian malam. Namun ada kalanya takdir menemukan keduanya, dan itulah saat-saat rahasia Tuhan sedang mengungkapkan diri.

Malam itu, Imam Musa Al-Kadzim menyusuri jalan-jalan sunyi Baghdad. Entah mengapa tiba-tiba Musa berkeinginan untuk menghirup udara malam di jalanan. Melewati sebuah kedai malam, seorang wanita cantik melemparkan kulit pisang tepat di depannya. Laki-laki berwibawa itu menoleh, pandangannya tajam menerawang ke dalam kedai. Aroma arak dan bising musik menanarkan mata Sang Imam. Hatinya tergores mengungkapkan rasa iba.

"Wahai Jariyah, pemilik kedai ini seorang yang bebas merdeka, atau seorang hamba sahaya?" tanya Imam dengan kewibawaan seorang kinasih Tuhan.

"Seorang yang bebas merdeka .."

"Pantas saja! Andai dia seorang hamba sahaya sudah barang tentu dia akan takut terhadap Tuannya."

Atas tegur sapa ini, wanita penghibur itu sedikit terlambat masuk kembali ke dalam kedai. Pemilik kedai pun menanyakannya.

"Kenapa lama sekali kau di luar?"

"Seseorang yang sangat berwibawa sedang lewat di depan, dan menanyakan ini itu kepada saya. Kata dia, andai pemilik kedai ini seorang hamba sahaya tentu akan takut kepada Tuannya."

Kalimat itu sangat menohok hatinya. "Andai seorang hamba tentu akan takut terhadap Tuannya!" Dia berfikir keras mengenai ucapan lelaki berwibawa itu. Bergegas dia keluar mengejarnya. Dia lari dengan kaki telanjang, dia tak sempat memakai alas kaki. Sesampai di depannya, dia pandangi wajah lelaki berwibawa itu .. dia terus memandanginya, hingga matanya berkaca-kaca. Satu persatu air matanya menetes, dan dia pun berlutut di depannya. Dia menyatakan taubat kepada Allah!

Sejak saat itu, dia tak pernah lagi memakai alas kaki. Dia adalah sufi sangat masyhur, Bisyr bin al-Harits al-Hafi, yakni Bisyr Sang Sufi yang tak beralas kaki. Bukan karena dia anti terhadap alas kaki. Sama sekali bukan! Dia tahu benar Rasulullah, kekasihnya, memakai alas kaki. Dia murni tersedot, majdub, untuk tak memakainya karena itu selalu mengingatkannya dengan awal mula pertaubatannya.

Ini mengingatkan kepada kisah seorang wanita 50an tahun yang setia dengan rukuh lusuhnya. Putrinya selalu membujuk dia agar menggantinya dengan rukuh yang baru. "Bukankah yang demikian ini lebih baik?", dalih putrinya. Tapi wanitu itu tak bergeming, hingga putrinya tak tahan dan menyembunyikan rukuh yang lusuh itu, lalu menggantinya dengan rukuh yang baru.

"Maaf Bu, rukuh Ibu hilang di jemuran dan sudah saya ganti dengan yang baru." katanya.

Wanitu baya itu menangis. Dan katanya kepada putrinya:

"Anakku, rukuh itu adalah hadiah perkawinan dari almarhum ayahmu. Rukuh itu lah yang mengenalkan ibumu kepada Allah. Rukuh itu memang sudah lusuh, tapi rukuh itu selalu mampu membawa kebaruan iman dan cinta. Apa arti rukuh baru jika iman dan cinta justru lusuh."

Ya, kebaruan iman dan cinta tidak selalu sejalan dengan kebaruan atribut luar. Rukuh dan baju boleh jadi baru, masjid juga boleh jadi megah dan mewah. Tapi seringkali kebaruan iman justru tebungkus dalam rukuh yang lusuh dan ternaungi dalam langgar yang kuno.

Banyuwangi, belajar memperbarui iman.