Jumat, 16 Maret 2012

Ketika Kesenjangan Semakin Bersenjang


Indonesia, adalah salah satu negara besar yang melingkup banyak kepulauan, terdapat eksotisme alam menabjubkan, dengan menyimpan berbagai kekayaan bumi. Selain itu buminya gemah ripah loh jinawi, warna warni adat budaya. Akan tetapi kini malah menjadi ironi, karena adannya sikap tidak bermanusiawi.
Ketika menyibak pemandangan luar biasa, karena eksotisme alam Indonesia yang begitu mengagumkan. Lihat, hijau daun beserta pepohonan yang rindang, di situ terdapat nuansa kesejukan tersendiri. Berikutnya melimpahnya kekayaan laut beserta keindahan bawah lautnya. Serta lihat, bumi Indonesia yang  subur, ketika ditanam maka tumbuhlah, dan dengan berbagai kekayaan bumi lainnya.

Realitanya berbeda dengan apa yang seharusnya  dirasakan sekarang. Hal Itu terjadi karena minimnya sosalisasi, pemberdayaan manusia yang kurang memadai. Dan di dukung ulah para mereka yang tidak memanusiakan manusia, petingi petinggi negara yang dolim, beserta mereka yang kaya yang takluk akan kekayaannya. Seharusnya masyarakat dapat memanfaatkan kekayaan alam, dan mendapat keadilan untuk merasakan hal yang sama, dengan hak masing masing. Bukan mengalami tumpang tindih dan tentunya hal itu menjadi sebuah anomali.


Para pejabat tinggi dengan berbagai "prabotan"nya yang mewah. Kemudian dengan gaya necis, berdiri di atas podium berorasi, ataupun melalui sarana media lainnya. Mereka berkoar koar mengumbar janji manis, tidak lupa juga dengan uang saku, kaos yang didistribusikan, dan apa pun itu untuk memperlancar misinya. Tapi janji sekarang hanya tinggal janji, dulu mereka berjanji manis, kini sepahlah janji itu. Tidak berhenti sampai di situ, setelah terlaksana misinya, dan janjinya berujung bualan, ditambah lagi dengan aksi korupsi yang semakin ramai. Dan anehnya walaupun aksinya sudah diketahui, masih saja berbelit dalam persidangan supaya mendapatkan hukuman seminimal mungkin. Tentunya berbeda, ketika hukum itu menimpa warga biasa, dengan mudah sekali untuk menghaikimi, dan hasilnya pun tidak sebanding apa yang selayaknya, ketika di bandingkan dengan mereka yang berjabat. Apakah hukum hanya milik bagi yang berkuasa dan berduit.

Dan selain itu, para petinggi negara dengan menggunakan kekuasaanya, membuat tindakan untuk menambah kemewahan fasilitasnya, entah itu mobil mewah, gedung megah, sampai study banding ke luar negeri, dengan dalih untuk menunjang kinerjanya. Hal itu wajar saja, ketika dibuktikan dengan kinerja yang memuaskan, dan anggaran yang sepantasnya. Namun lagi lagi, realitanya berkata lain, kinerja para petinggi ambruk, dengan hasil kurang memuaskan, dan terbukti masih banyaknya kesenjangan sosial di sana sini yang mudah ditemui. Walhasil, di samping masyarakat yang serba kekurangan, kelaparan, tidak ada lapangan kerja yang mencukupi, hidup dengan ala kadarnya, rela  mengais dengan sisa yang ada. Para pejabat malah berumbar dengan kemewahannya, lagi lagi para koruptor yang tidak tahu dosa, menggunakan uang haram itu, untuk sekedar berfoya foya dengan kemewahan, dan tidak mereka sadari, hal itu hanyalah fatamorgana semata.
Dan terkadang, para petinggi juga mengeluarkan kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat, semisal kerjasama terhadap negara lain dan malah membawa rugi terhadap negara sendiri, salah satunya berupa importir barang ataupun hasil bumi. Dan baru baru ini dalam sebuah laporan berita dari salah satu setasiun televisi nasional, di daerah Brebes Jawa Tengah, adanya importir bawang merah dari Vietnam, tentunya ini membawa kabar pedas terhadap para petani kecil. Padahal Brebes adalah daerah yang terkenal dengan surganya bawang, dan Indonesia sendiri mempunya tanah sebegitu luasnya, dan tingkat kesuburan yang tinggi, sungguh ironi memang.

Selanjutnya, ketika ibu kota Jakarta menjadi sudut pandang, apa yang sepintas terbesit dalam benak, tidak lain gedung gedung pencakar langit yang angkuh berdiri, berikut dengan kemacetan yang tak terbendung. Kaum borjuis masih enak saja dan dengan mudah membangun gedung gedung tinggi nan megah, entah itu berupa mall, hotel maupun lainnya, tanpa menghiraukan lingkungan sekitar. Seharusnya tempat pembangunan itu menjadi tanah hijau, meliputi taman kota ataupun kebun, sebagai resapan air dan mengisi keindahan tatanan kota sekaligus mengurangi polusi udara bukan sebagai tempat penanaman beton beton keras. Sungguh keadaan yang memperihatinkan, di tengah tengah gedung megah, masih banyak di pinggiran para warga tidak berkecukupan, bertempat tinggal dengan berlangitkan atap tembus pandang, berbilik bambu yang sudah rapuh, beralaskan kasur tua, dan bersanding dengan lingkungan kumuh. Sedangkan para borjuis dengan bangga memandangi gedungnya yang tinggi, dengan leha leha tidur di springbad, beserta fasilitas kemewahan lainnya.

Kalau begini, hanya para petinggi negara dan kaum borjuis saja yang bisa menikmati surga Indonesia. Bagaimana mungkin masyarakat bisa merasakan kesejahteraan, kalau pemimpinnya tidak menjalankan yang semestinya. Seharusnya mereka lebih mementingkan masyarakat dan peka terhadap situasi kondisi sosial sekitar. Ya semoga kita, mereka senantiasa dalam pengawasan dan lindunganNya. Dan semua itu, bukan berarti menjadi halangan bagi individu untuk bergerak memulai dengan sesuat yang bermanfaat. Oleh karena itu, buanglah sikap apatis, selagi bisa bertindak, why not?.