Kamis, 25 Juli 2013

Anis Baswedan: Pondok Ban Tan & Surin Pitsuwan

Ya Nabi salam alaika…
Ya Rasul salam alaika…
Ya habibie salam alaika…
Shalawatullah alaika…
Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, kita harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat, lalu dari airport yang kecil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman.

Masuk di tengah-tengah desa-desa dan perkampungan umat Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.

Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu kegiatan puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini.

Selasa, 23 Juli 2013

Saikh Abdul Qodir al-Jailani: Saat Umat Saling Mengkafirkan

Negeri Baghdad sedang mengalami kekacauan. Umat Islam terpecah belah. Para tokoh Islam menjadikan khutbah Jum’at sebagai ajang untuk saling mengkafirkan. Di saat bersamaan, seorang Abdul Qadir Al-Jailani muda diamanati oleh gurunya, Syekh Abu Sa’ad Al-Muharrimi untuk meneruskan dan mengembangkan madrasah yang telah didirikannya.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani lalu berpikir bahwa perpecahan di antara umat Islam adalah akar masalah pertama yang harus segera disikapi, ilmu pengetahuan tidak pada posisinya yang benar jika hanya digunakan sebagai dalih untuk saling menyesatkan di antara sesama saudara.

Di tengah kegelisahannya atas keadaan umat Islam pada saat itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berniat untuk menemui setiap tokoh dari masing-masing kelompok, niat memersatukan umat Islam tersebut ia lakukan dengan sabar dan istiqomah, meskipun hampir dari setiap orang yang dikunjunginya justru menolak, mengusir, atau bahkan berbalik memusuhinya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tetap teguh kepada prinsipnya, bahwa perpecahan Islam di sekitarnya tidak bisa didiamkan, melalui madrasah yang sedang dikembangkannya, dia mulai melakukan penerimaan murid dengan tanpa melihat nama kelompok dan status agama.

Senin, 22 Juli 2013

Syair-Syair Simbah KH. Muhammad MUnawwir Rahimahullah


KH. Muhammad Munawwir rahimahullah memiliki beberapa syair atau petuah-petuah bijak yang menjadi favorit beliau. Berikut syair-syair tersebut sebagaimana dalam buku manaqib sejarah beliau, antara lain:

-  Mengutip Imam Abu Sulayman al-Khaththabi, sebagaimana diriwayatkan oleh KH. Umar (Kempek, Cirebon):
وَلَسْتُ بِسَائِلٍ مَا دُمْتُ حَيًّا #  أَسَارَ الخَيْلُ أَمْ رَكِبَ الأَمِيْرُ
(Selama aku hidup, aku tidak akan bertanya (dan tidak peduli), apakah yang berlari kuda, ataukah Amir yang menaikinya)
Barangkali antara maksudnya: ketika seseorang sudah menetapkan diri untuk mondok ya harus siap dengan segala konsekwensinya, yaitu beruzlah dan mengasingkan diri dari berbagai hal yang mungkin terjadi di sekitarnya dan mengganggu konsentrasi belajarnya.

Selasa, 02 Juli 2013

Mahfud MD: Santri Juga Bisa Memimpin Bangsa

Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan tertua bangsa ini dulunya dikatakan sebagai pendidikan kelas 2. Sebab lembaga pendidikan yang langsung dinahkodai oleh kiai dianggap hanya mampu mendidik santri memahami fikih saja seperti bisa shalat dan sejenisnya namun seiring perkembangan zaman pesantren yang eksis hingga saat ini santri-santrinya juga bisa memimpin bangsa.

Hal itu dikemukakan Mahfud MD saat memberikan tausiyah dalam Haflah Akhirus Sanah Pesantren Hadziqiyah desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Ahad (30/6) siang.

Rabu, 26 Juni 2013

Sekilas Pandang Tentang Anis Baswedan

“Indonesia tak ubahnya negara kolonial, seperti dahulu belanda dan jepang menjajah.” Begitulah perkataan yang kerap kali disuarakan oleh Anis Baswedan PH.D., dalam menghadapi kondisi negara saat ini. Mereka beraanggapan bahwa warga Indonesia bukanlah sebagai tolak ukur aset negara, melainkan aset adalah materi baik dari sektor kekayaan alam maupun barang tambang yang bisa dimanfaatkan dan menjadi pundi-pundi uang. Beliau yang sekarang masih menjabat menjadi Rektor Universitas Paramadina, dan penggagas Indonesia Mengajar, melihat bahwa wacana fundamental ini haruslah diubah. Karena telah terlalu lama menina bobokan masyarakat. Oleh karena itu, penting adanya tindakan guna merekonstruksi ke wacana baru, yaitu Indonesia akan maju dengan aset sumber daya mansianya. Bukan dari segi materi, akan tetapi memanfaatkan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki bagi setiap lapisan masyarakat.

Syafi'i Ma'arif: Kejujuran Bernegara


Semakin panjang jalan yang dilalui kemerdekaan bangsa yang sampai detik ini menjelang 68 tahun, semakin tersibak penyimpangan kelakuan kolektif kita, terutama seperti yang diperagakan oleh sebagian kaum elite Indonesia. Perasaan berdosa dan berdusta yang mengkhianati sumpah jabatan sudah dianggap ringan tanpa beban moral sama sekali. Lihatlah di layar kaca wajah-wajah para tersangka korupsi yang menebar senyum, tak semiang pun terlihat tanda penyesalan.

Pertanda apa semua pertujukan hitam ini? Jawabannya tunggal: sebagian elite bangsa ini secara moral sedang pingsan. Nurani yang pada dasarnya jujur dan bersih sudah lama tidak difungsikan. Akal sehat pun telah tiarap berhadapan dengan kuatnya godaan materi, seks, dan kekuasaan. Dalil-dalil agama yang sering dikutip hanyalah topeng untuk menutupi keserakahan terhadap kesenangan duniawi yang tak pernah merasa puas. Perilaku semacam ini jauh lebih busuk dari kelakuan mereka yang terang-terangan tidak menyukai agama yang mungkin dalam batas-batas tertentu masih bermoral.

Rabu, 01 Mei 2013

Kalbu Vs Nafsu

Malaikat bersuara, setan turut melejit
Malaikat berkata putih setan merajuk  hitam
Oooh berat mana jalan mengarah
Pergulatan hitam putih nampaknya akan selalu panas
Saling beradu ketangkasan
Tinggal mana yang kuat
Dan sanggup menembus raiso
Ataukah sampai pada naluri